Supir Bajaj Eksis Ditengah Laju Teknologi
- 25 Mar 2025 05:46 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Siapa yang tidak mengenal bajaj, kendaraan roda tiga bermotor yang digunakan sebagai alat transportasi umum. Kendaraan ini sering disebut sebagai auto-rickshaw atau tuk-tuk di beberapa negara. Kapasitas penumpang biasanya 2-3 penumpang di belakang.
Di Jakarta kendaraan ini sejak dahulu hingga kini belum mengalami perkembangan yang pesat, meski saat ini terseok ditengah gempuran kendaraan on line.
Perjuangan para supir bajaj sangatlah berat, berat bukan karena memikul beban, berat oleh karena digempur oleh kendaraan online, dan ditengarai sebagai biang kemacetan, untungnya mereka masih tetap bertahan.
Seperti perjuangan Bapak Sohipa usianya 56 tahun. Pria asal Pemalang ini memilih bertahan sebagai supir bajaj lantaran tidak ada lagi pekerjaan yang dapat mempekerjakan orang tua seperti dirinya. Keahliannya mengendalikan laju kemudi ia gunakan untuk membawa bajaj.
Tidak terasa Pak Sohipa sudah 10 tahun hidup di kota metropolitan, tak terasa juga tangannya sudah mengekang kemudi bajaj 10 tahun berjalan. Waktu begitu cepat, roda-roda bajaj kini kian terseok arus perubahan, teknologi online mulai merajai jalanan.
Ada petuah bijak berujar, jika tak mengikuti zaman akan ditinggalkan, jika jalan perlahan akan mundur ke belakang. Namun, semaju-majunya perkembangan teknologi, eksistensi bajaj tidak pernah terlupakan.
Yah, bajaj sulit dilupakan oleh para pelanggannya, hal ini dibuktikan oleh ketabahan supir bajaj seperti Pak Sohipa, hingga kini tetap setia, sejak bajaj berbahan bakar bensin hingga beralih ke bahan bakar gas.
Tidak banyak memang yang dihasilkan oleh supir bajaj seperti Pak Sohipa, namun ia tak ngoyo untuk mengejar setoran. Menurut Pak Sohipa, harga bajaj tergantung oleh jauh dekatnya tujuan.
"Tarifnya tergantung, jika dekat sekitar Sarinah atau Gondangdia sekitar 20 hingga 25 ribu rupiah, tapi kalo agak jauh nyampe 40 hingga 50 ribu rupiah, " kata Pak Sohipa.
Penghasilan Pak Sohipa tidak menentu seperti kebanyakan pekerja keras lainnya, jika dipukul rata-rata dalam sehari menarik bajaj, Pak Sohipa bisa mendapat Rp 100.000,- hingga Rp 150.000,-. Itupun kotor belum dikurangi membeli gas dan setoran bajaj yang mencapai Rp 60.000,-.
Di awal-awal bulan Ramadhan penghasilan Pak Sohipa cenderung meningkat, namun biasanya menjelang Lebaran penghasilan Pak Sohipa melonjak, hal ini dikarenakan banyak kendaraan berhenti beroperasi dan salah satu alternatif hanyalah kendaraan bajaj.
Meski ditempa oleh terik panasnya mentari, ditimpa oleh deru kemacetan, Pak Sohipa tetap menjalani ibadah puasa dengan sabar. Namun, godaan selalu saja datang melanda, rasa haus menguras tenaga, hingga Pak Sohipa harus membatalkan puasa.
Menurut pria yang sudah puluhan tahun berkendara di sesaknya jalan Ibu Kota, menjadi pengendara bajaj memiliki banyak dukanya dari pada sukanya.
"Dukanya kadang bajaj suka ngadat, macet, hujan dan tidak mendapat pelanggan, " kata Pak Sohipa.
Banyaknya persaingan antar pemilik kendaraan, menyebabkan tingkat kemacetan parah di kota Jakarta yang berimbas pada berkurangnya penghasilan supir-supir kendaraan umum khususnya bajaj.
Yah, inilah kota Jakarta, yang memiliki berjuta impian dan keinginan. Bagi para supir bajaj jika saja boleh bermimpi, jalan di ibu kota tidak melulu selalu didera kemacetan. Bagi supir bajaj jika saja boleh berkeinginan agar Jakarta bebas dari polusi.
Sayangnya perkembangan teknologi selalu berimbas pada persaingan, tapi jangan kuatir bajaj selalu memiliki penggemarnya tersendiri, seperti bajaj Bajuri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....