Potret Penjaga Eretan Disimpang Zaman
- 16 Mar 2025 04:39 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Eretan merupakan mode transportasi sungai antar kampung, aktifitas ini dilakukan oleh seorang yang menarik rakit atau getek dengan tambang, pada zamannya merupakan media transportasi satu-satunya yang menghubungkan dua desa.
Di zaman berkembang seperti saat ini, eretan banyak dilupakan, namun masih menjadi salah satu transportasi penyebrangan yang dapat diandalkan untuk memotong jarak tempuh yang jauh.
Adalah Teja Lesmana, usianya mendekati 60 tahun, warga Kampung Rawamalang, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pria kelahiran Subang ini dengan penuh semangat menarik tambang yang membentang di atas aliran Sungai Drainase Cilincing yang alirannya langsung menuju laut.
Rakit yang dioperasikan Lesmana disusun dari bilah kayu dan bambu sementara papan sebagai alasnya, untuk pegangannya menggunakan balok yang dibentuk sedemikian rupa agar aman bagi penumpangnya.
"Yah harganya satu eretan 15 juta mah abis, itu cuman geteknya ajah, sementara, jalan dan tanah lain lagi, " kata Pak Lesmana.
Aliran Sungai Drainase tempat rakit eretan itu beroperasi memiliki lebar 30 meter. Waktu tempuh naik rakit eretan juga tak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu dua menit saja.
15 tahun hidup di Jakarta Bapak yang sudah menjadi warga Rawa malang ini awalnya bekerja sebagai ojek sepeda, lantaran kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk mengayuh roda-roda sepeda, pada akhirnya Pak Lesmana memilih sebagai pekerja pengantar eretan yang tidak terlalu banyak menguras tenaga.
"Beberapa tahun lalu kaka membuat eretan makanya kerja eretan ajah, " kata Pak Lesmana.
Pak Lesmana menjelaskan, rakit eretan berukuran 4x10 meter itu bisa mengangkut hingga 5 motor untuk sekali jalan. Untuk sekali jalan, warga yang menggunakan moda transportasi tenaga Pak Lesmana tidak dipatok tarif tertentu. Seikhlasnya saja, kadang ada juga yang tak membayar. Namun hal itu tak terlalu dipermasalahkan. Rata-rata para pengguna eretannya merupakan para pekerja dari Bekasi selain warga sendiri.
"Yah adalah hasil buat makan-makanlah," ujar Pak Lesmana.
Suka duka telah ia lewati dalam mengarungi kali Drainase selama menjadi nahkoda eretan, menurutnya, ia senang jika hari biasa, eretannya ramai digunakan warga untuk transportasi penyebrangan. Namun tidak setiap usaha selalu berbuah keuntungan, jika hujan lebat banjir melanda Jakarta, dan kali Drainase meluap, ia harus berhenti bekerja dan mengikat eretannya dengan erat, membiarkan eretannya terapung-apung oleh derasnya arus kali.
"Kalo musim banjir tutup dari pada bahaya, kan airnya tinggi, " ujar Pak Lesmana.
Di bulan Ramadhan para pengais rupiah tidak selalu merasa bernasib baik dalam berdagang, bercocok tanam, maupun pekerja keras, Pak Lesmana merasa bulan Ramadhan kali ini dirundung sepi, sedikit sekali penghasilannya. Namun demikian ia tetap merasa bersyukur, sebab rezeki terbesar dalam hidup berumur panjang dapat bertemu bulan Ramadhan.
Sebagai pekerja eretan, Pak Lesmana tidak berharap banyak pada suratan nasib yang telah ditentukan sang Khaliq. Hanya saja ia berharap agar eretan akan tetap selalu beroperasi di kali Drainase, sebab menurutnya ada wacana pekerja eretan yang jumlahnya puluhan di kali ini akan digusur.
"Semoga tidak ada penggusuran, entar getek gimana, nanti kami kerja apa, sudah tua begini, di pabrik gak bisa, satu-satunya jalan yang getek ini, " kata Pak Lesmana.
Yah kita tidak tau nasib para pekerja getek ini dikemudian hari, jika dicermati alat transportasi ini sangat berfungsi ketika pemerintah engga membangun jembatan sebagai sarana penghubung warga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....