Buruh Pelabuhan Sunda Kelapa, Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing

  • 10 Mar 2025 05:20 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Kuli identik dengan para pekerja keras, yang melakukan pekerjaan nya dengan mengandalkan kekuatan semata. Namun pekerjaan ini bagi mereka begitu mulia, sebab ada keluarga yang harus dinafkahi, meski beban berat harus dipikul demi keberlangsungan hidup.

Ada banyak profesi kuli yang digeluti sebagain warga Jakarta, karena peluang menjadi kuli lebih mudah, tanpa harus memiliki ijazah, tanpa harus mengandalkan kepintaran, asalkan giat bekerja dan tidak malu untuk melangkah.

Apapun profesinya, mereka adalah para pekerja keras yang berjuang hidup untuk memenuhi tuntutan keluarga, yang penting halal, dan tidak merugikan orang lain.

Adalah Kertam pria kelahiran Purwokerto tahun 1969. Dirinya merupakan kuli yang bekerja sebagai pemanggul di Pelabuhan bersejarah Sunda Kelapa. Menjadi kuli sudah suratan Pak Kertan, sebab hanya kekuatanlah yang bisa ia andalkan untuk memenuhi tuntutan keluarga.

Lagi-lagi minimnya pengetahuan dan pendidikanlah yang membuat Pak Kertam untuk menjadi pekerja keras, memeras keringat, membanting tulang. Jika ditanya mengapa memilih bekerja sebagai kuli, ia hanya menjawab, "Namanya orang bodoh, yah kuli ajah kerjanya, "

Seharusnya, Pak Kertam bersyukur, sebab berapa banyak mereka yang memiliki ijazah tinggi dan kepintaran, justru hidupnya terkatung dalam buaian angan dan impian.

Ada istilah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, filosofi inilah yang diterapkan para buruh Pelabuhan bersejarah ini, mereka bekerja berkelompok, dari satu kapal, ke kapal lainnya. Tidak hanya barang klontongan, namun juga semen, kaolin, hingga pupuk, yang akan di kirim ke wilayah yang sulit terjangkau oleh kapal-kapal besar.

Di Pelabuhan Sunda Kelapa, kapal-kapal yang bersandar juga memiiliki sejarah dalam perjalanan bangsa ini. Kapal pinisi namanya, kapal ini sudah sejak zaman dahulu digunakan pelaut-pelaut tangguh di Nusantara untuk membelah lautan, bahkan mencapai manca negara hanya dengan teknologi manual.

Rata-rata para buruh Pelabuhan dalam sehari dapat memanggul berat beban 300 ton yang pertonnya dihargai Rp 9.000,-

"Kalo lagi banyak barang bisa dapat 200 ribu sehari, " ujar Pak Kertam.

Suka-duka dalam memapah barang di Pelabuhan, telah dirasakan banyak buruh seperti Pak Kertam. Menurut Pak Kertam karena proses pengerjaan bongkar muat masih menggunakan teknologi manual, sehingga sering sekali terjadi kecelakaan yang menimpa buruh, mirisnya mereka tanpa perlindungan.

"Kadang kecelakaan temen-temen terkena gancu, " ujar Pak Kertam.

Minimnya safety prosedur di pelabuhan sehingga para buruh harus berhati-hati dalam melangkah.

Pak Kertam merasakan benar payahnya bekerja sebagai buruh Pelabuhan. Panas terik, debu berterbangan, ditambah berat beban barang, merupakan tantangan yang harus dihadapi buruh Pelabuhan, dalam sehari bekerja, merasakan tertatih dan kepayahan hingga lelah.

Pak Kertam bercerita, dalam bekerja, kaki-kaki terus menopang berat barang, sementara tangan menahan keseimbangan, agar beratnya beban yang dipanggul para buruh tidak terjatuh, jika salah perhitungan, bahu bisa patah, paling naas, tertimpa kren pengangkut barang.

Di bulan Ramadhan, tidak banyak para buruh yang menjalani ibadah puasa. Beratnya beban demi dapat memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga para buruh enggan melaksanakan puasa, ini sangat beralasan, menurut para buruh, tidak mengapa, asalkan keluarga dapat makan.

Bekerja sebagai buruh bukanlah pilihan, namun bagi mereka yang telah terbiasa merasakan kerasnya bekerja di Ibu Kota adalah sebuah keniscayaan.

Demikianlah hidup para pekerja buruh pelabuhan. Prinsip mereka, jika tak sanggup memikul beratnya beban, lebih baik mundur kebelakang tanpa penghasilan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....