Suka Duka Penjemur Ikan Asin di Tanah Pengasin
- 02 Mar 2025 04:35 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Pesisir Jakarta, banyak mengisahkan perjuangan warga yang mengunduh rezeki dari laut, sebagai nelayan, atau sebagai pekerja lepas penjemur ikan asin.
Ikan-ikan ini akan menjadi menu santapan warga di kota-kota besar, hingga memasuki pelosok desa yang sulit menjangkau laut. Sedikit saja yang tau, dari tangan para pekerja inilah, ikan-ikan yang dikonsumsi semua kalangan menjadi menu santapan bergizi penuh protein.
Adalah Martono, 62 tahun usianya, sejak 10 tahun lalu telah bekerja sebagai penjemur ikan asin di wilayah pesisir Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara
Penghasilan nya tergantung jika alam memberikan kelimpahan ikan kepada nelayan, menurut Martono bisa mendapat Rp 100.000,- hingga Rp 150.000,- per harinya. Jika tidak ada ikan Martono hanya berharap welas asih dari juragan ikan tempatnya bekerja.
Menjadi penjemur ikan untuk diasinkan tidaknya mudah, jika dilihat, pekerjaan ini tergantung oleh teriknya cahaya mentari yang dapat mengeringkan ikan-ikan, semakin terik semakin cepat ikan untuk dimasukkan ke dalam dus, namun, jika alam sedang tak bersahabat apa lagi di musim penghujan, siap-siap, tenaga akan terkuras karena ikan harus tertup rapat dari terpaan air hujan.
Martono tidak sendiri dalam bekerja, dibantu 5 rekannya, Ia memulai proses mengolah ikan laut yang segar, hingga menjadi ikan asin penuh protein.
Sebelum ikan-ikan dijemur proses awal adalah menyalakan tungku besar dengan bahan bakar kayu yang sudah tak terpakai. Dalam tungku sudah terdapat air yang sudah diberi garam laut, setelah tungku mendidih barulah ikan-ikan dicelupkan untuk segera dijemur.
Meski tulang dan kulit sudah tak sekekar di masa muda, Martono kelahiran Semarang ini tetap tegap bekerja membanting tulang demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sebab tulang punggung keluarga terletak di pundaknya.
Sebagai laki-laki yang sudah 40 tahun malang melintang hidup di Ibu Kota, Martono semakin bijak menghadapi proses hidup. 7 anak, 2 cucu dan istrinya Ia tanggung tanpa keluh kesah dan kecewa pada nasib.
Daeng Mansur sebagai pemilik lapak pengasin, bercerita, bahwa pekerjanya berasal dari warga setempat. Mereka rata-rata mengontrak, memang seperti tak layak, namun, inilah resiko kaum urban di kota-kota besar seperti Jakarta, jika tak bekerja akan terjerumus pada lembah dosa.
Martono di usianya saat ini, tak berharap banyak pada suratan nasib. Asalkan dapat mendidik anak-anak nya lebih baik merupakan sebuah kebanggaan baginya.
Panas terik matahari, ditambah bara api yang selalu menyala membakar tubuh rentanya, Martono menjadi suri tauladan para orang tua bijak untuk tetap bekerja demi satu cita, mendidik anak-anak nya agar lebih baik pemghidupannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....