Larung Sesaji, Ritual Tolak Bala di Teluk Jakarta
- 05 Jan 2025 07:40 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Larung sesaji atau sedekah laut merupakan ritual bagi masyarakat yang hidup di pesisir pantai Jawa, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan yang melimpah juga sebagai ritual tolak bala, namun ritual ini tidak hanya berada di sepanjang pantai Jawa, ritual ini juga berada dibeberapa pesisir di Nusantara. Berikut penelusuran reporter RRI dalam mengungkap ritual Larung sesaji yang berada di pesisir Jakarta. Minggu, (5/1/2025).
Tidak seperti biasanya, warga kampung Nelayan Cilincing menghias perahu-perahunya yang digunakan untuk mecari nafkah dilaut. Sejenak saya terkesima, melihat warna-warni kemeriahan yang berada disepanjang jalan kampung nelayan. Alunan musik gending Jawa asal Indramayu turut memeriahkan acara yang digelar setahun sekali ini. Tari topeng yang diperankan oleh seorang bocah begitu lincahnya, mengawali acara prosesi Sedekah Nelayan Cilincing. Ada kebahagian diwajah para nelayan dalam melakukan larung sesaji di Teluk Jakarta. Aneka hasil bumi yang biasa digunakan untuk makanan sehari-hari, turut serta sebagai penghias ratusan perahu yang berada dipesisir pantai, ada pula yang turut di larung bentuk rasa sukur para nelayan atas pencapaian hasil tangkapannya setahun terakhir di Teluk Jakarta.
Puncak acara dalam sedekah laut ini adalah pelarungan sesaji, berisi kepala kerbau serta beranegaragam hasil bumi lainnya yang telah dirapal mantra oleh sang pawang . Pagi-pagi sekali ratusan warga dari pesisir pantai khususnya warga Cilincing Jakarta Utara berduyun-duyun mendatangi tempat diadakannya sedekah laut. Teriknya mentari pagi tak menghentikan antusias warga yang akan ikut serta melakukan pelarungan sesaji. Sebagai warga pesisir tidak afdol rasanya jika hanya bisa melihat dan menonton pertunjukan tanpa bisa melihat langsung upacara pelarungan berbagai sesaji di tengah teluk Jakarata. Perahu utama pengangkut sesaji sudah ditambatkan, puluhan nelayan turut menjaga sesaji yang akan dilarung ditengah kerumunan warga yang sudah memadati lokasi pelarungan.

Sebelum acara pelarungan dimulai, saya menyaksikan kondisi Teluk Jakarta yang saat ini sudah sangat memprihatinkan, airnya hitam, dengan sampah yang bertebaran dimana-mana. Dangkalnya pesisir pantai yang banyak dihuni oleh nelayan dari berbagai daerah ini, menghambat lajunya perahu-perahu nelayan untuk beraktifitas. Ikan dan kerang sebagai komuditi utama para nelayan teluk Jakarta sudah menjauh dari pesisir pantai, hal ini jelas dapat mengurangi penghasilan tangkapan para nelayan. Teluk Jakarta telah tercemar, sudah waktunya masyarakat sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan alam agar pesisir pantai banyak memberikan manfaat bagi warga pesisir dan banyak warga lain disekitarnya.
Teluk Jakarta memiliki luas sekitar 514 km2 membentang dari Marunda hingga Muara Kamal, konon teluk Jakarta merupakan tempat para saudagar untuk berdagang yang banyak disinggahi oleh berbagai suku bangsa. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal bakal pelabuhan pertama yang dibangun diteluk Jakarta yang menjadi tujuan vavourit para wisatawan lokal dan mancanegara. Hampir 70persen penduduk dipesisir pantai Jakarta bermata pencaharian sebagai nelayan pencari kerang hijau dan ikan. Namun sayang, semenjak banyak pabrik berdiri dan kurangnya kesadaran masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian ekosistemnya, kini teluk Jakarta mulai terkontaminasi berbagai limbah.
Acara sedekah laut yang diadakan nelayan setempat sudah ada sejak 20 tahun silam, hal ini turut mendongkrak nilai prekonomian warga pesisir, meskipun dengan kondisi teluk yang kian hari kian memprihatinkan. Tidak banyak warga pesisir pantai yang bisa merayakan sedekah laut di Teluk Jakarta, karena hilangnya lahan-lahan warga yang kini menjadi pemukiman-pemukiman berkelas. Satu persatu pemukiman warga yang berada di pesisir pantai menghilang tergerus oleh modernisasi dan perkembangan zaman.
Sang Perapal Mantra.
Kapal mini yang terbuat dari bambu sudah disiapkan. Kain pembungkus kapal berwarna merah dan putih telah dililit bersama sesaji yang akan dilarung. Sebelum kapal mini diangkat ke atas kapal, sang pawang dengan dupa dan sejumlah sesaji mulai merapal mantra. Kepulan asap yang keluar dari dupa membawa semerbak wewangian hingga kedasar samudra yang berair keruh. Ratusan warga yang menyaksikan prosesi pelarungan hening seketika, menyaksikan sang pawang membaca mantra. Khusu penuh hikmat bermunajad akan terkabulnya segenap hajat. Setelah selasai doa dipanjatkan barulah kapal mini yang sudah terisi sesaji diarak menuju kapal besar untuk segera dilarung.
Banyak mantra dan sesaji yang dilakukan oleh pawang Nadranan, selain kembang tujuh rupa, ada juga kemenyan, rokok, kopi hitam, kepala kerbau dan juga hasil bumi seperti buah-buahan dan padi. Semua adalah simbol kemakmuran warga pesisir yang tercukupi dari sandang dan pangan. “kalo semua sesaji sudah diberi doa barulah proses pelarungan dilakukan ditengah laut yang akan diperebutkan oleh warga pesisir.” Kata Karim sang Perapal Mantra. Antusias wargra untuk mengikuti prosesi pelarungan tidak dapat dipisahkan dari sang perapal mantra, karna jika semakin banyak warga yang mengikuti prosesi pelarungan berarti semakin banyak pula penghasilan nelayan yang diproleh ditahun-tahun berikutnya
Tradisi pesta laut atau yang biasa disebut Nadranan merupan tradisi yang sudah berkembang di pulau jawa sejak kerajaan petama Hindu berada. Tradisi Nadran acapkali disebut sebagai syukuran atas anugrah limpahan hasil laut kepada masyarakat pesisir pantai yang sudah memberikan banyak hasil tangkapan dilaut. Awalnya dalam memanjatkan rasa syukur para nelayan melakukan pengorbanan dengan memotong kepala kerbau untuk persembahan kepada penguasa laut beserta sesaji lainnya yang dilarung dilaut lepas.
Seiring bergulirnya waktu, kini persembahan terhadap penguasa laut berubah menjadi syukuran yang menyedekahkan hasil bumi kelaut kepada Tuhan Yang Maha Esa, meskipun tetap dengan pemenggalan kepala kerbau sebagai simbol kemakmuran warga pesisir. Peran perapal mantra untuk mengadakan syukuran dilaut untuk sesembahan sangat penting bagi tradisi pesta laut, karna tanpa perapal mantra atau pemanjat doa-doa sukuran, prosesi pelarungan tidak dapat dilakukan. Karim (45) adalah contoh salah satu perapal mantra di kampung Nelayan Cilincing yang sudah dilakukannya secara turun temurun.
“ Dimanapun upacara yang dilakukan untuk membuat sebuah tradisi pasti tidak lepas dari juru doa, yang akan memanjatkan puji-puji dan doa tolak bala agar kampung tersebut terhindar dari musibah dan diberikan tangkapan yang melimpah.” Terang Karim yang sudah 5 tahun dipercaya sebagai pelapal mantra di Kmpung Nelayan Cilincing. Diakui Karim untuk menjadi pawang tradisi Nadranan tidaklah mudah, selain harus memiliki jiwa yang sabar namun juga harus bisa berhubungan langsung dengan dunia Ghaib yang kasat mata. Hal ini bertujuan agar saat upacara digelar tidak dapat halangan apapun.
Waktunya pelarungan.
Kapalpun terus bergerak dari perkampungan nelayan menuju Teluk Jakarta yang airnya berwarna kehitam-hitaman. Kapal dengan ukuran besar dan kecil siap sedia dengan penumpang yang berdiri diberbagai sisi lambung kapal untuk berebut hasil sesaji. Sesampainya di tengah Teluk Jakarta ratusan perahu yang ditempati banyak warga menunggu kendali sang pawang untuk melepaskan perahu yang sudah di rapal oleh mantra-mantra. Tak sabar warga menanti pelarungan sesaji, hingga banyak perahu-perahu yang saling bersenggolan. “Bismillahirohmanirrohim.” Suara sang pawang menggema. Byuuuuuurrr.....perahu mini yang diatasnya tersaji kepala kerbau dan beberapa hasil bumi lainnya meluncur dari atas perahu yang saya naiki. Ratusan warga yang sudah tidak sabar langsung menceburkan dirinya mengambil hasil sesaji yang telah dilarung.
Riuh peserta yang mengikuti tradisi pelarungan begitu semangatnya, tua muda hingga anak-anak merayakannya dengan suka cita . Sesaji yang telah bercampur dengan air laut ludes seketika. Bahkan kepala kerbau yang menjadi inti dalam sesaji turut lenyap. Ada berkah tersendiri ketika masyarakat berebut hasil bumi yang telah dilarung. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika mendapatkan hasil yang telah dilarung maka berkah rezeki akan terus mengalir hingga sedekah nelayan berikutnya. Entah dari mana kepercayaan itu didapat namun hingga kini perosesi sedekah nelayan menjadi arti tersendiri khususnya bagi masyarakat pesisir Jakarta yang kini sudah tergerus oleh banyaknya pembangunan di Teluk Jakarta.
Usai sudah pelarungan sesaji di Teluk Jakarta dengan harapan masyarakat pesisir akan mendapat hasil tangkapan yang melimpah. Perahu-perahu nelayan yang mengikuti prosesi pelarungan tidak langsung kembali kedarat. Banyak dari mereka yang melanjutkan perjalanan menuju pulau-pulau yang letaknya tidak jauh dari pesisir Jakarta. Sangat jarang sekali warga pesisir menikmati kehidupan lautnya. Jika ada tempat rekreasi ditepi patai itupun dengan tarif yang tidak terjangkau oleh warga pesisir, sehingga momen satu-satunya untuk berlibur mengajak seluruh keluarga dan masyarakat pesisir adalah dengan acara budaya larung sesaji yang merupakan sebagai lebarannya warga pesisir.
Sedekah laut dipesisir pantai Jakarta menjalin tali silaturahmi antara warga pesisir yang jaraknya terpisah oleh bangunan-bangunan yang banyak berdiri menghimpit pemukiman warga nelayan. Kemeriahan larung sesaji merupakan berkah bagi warga peisisir untuk mendongkrak nilai budaya dan kearifan lokal warga pribumi yang kini semakin tersudut oleh pembangunan Ibukota. Sebagai negara bahari sudah sepatutnya warisan dan nilai-nilai budaya yang terkandung dipesisir pantai terus terjaga. Agar kelestarian Ikan, trumbu karang dan biota laut lainnya dapat di menikmati oleh generasi kehidupan yang akan datang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....