Wingko Babat Kelapa Hijau Pikat Generasi Muda di Kampoeng Tempo Doeloe

  • 13 Sep 2026 18:48 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk Pameran Kampoeng Tempo Doeloe, aroma harum adonan panggangan khas langsung menyapa para pengunjung. Dari sekian banyak stan jajanan nusantara, keberadaan Wingko Babat Kelapa Hijau menarik perhatian. Bukan sekadar kuliner legendaris, usaha yang kini telah memasuki generasi kelima ini membawa cerita tentang kehangatan keluarga dan konsistensi merawat tradisi.

Dian, penanggung jawab stan Wingko Babat Kelapa Hijau, menceritakan bahwa perjalanan panjang kuliner ini berawal dari Babat, Jawa Timur, sebelum akhirnya menetap dan berkembang pesat di Ngagel, Surabaya. Berdiri sejak lebih dari 108 tahun lalu—bahkan sejak zaman kolonial Belanda—keberadaan wingko ini menjadi bukti ketahanan sebuah resep warisan.

"Menjaga kualitas, resep, dan memastikan usaha ini turun-temurun tetap berjalan itu memang tidak gampang. Namun, keharmonisan dan keakraban keluarga sang owner menjadi kunci utama wingko ini bisa bertahan sampai sekarang," ujar Dian saat ditemui RRI Jakarta. Minggu 13 September 2026.

Berbeda dari wingko pada umumnya yang berbentuk pipih, Wingko Babat Kelapa Hijau menyajikan tampilan yang unik menyerupai kue apem dengan tekstur yang lembut, tidak terlalu manis, bebas gluten (gluten-free), serta tanpa bahan pengawet. Keunggulan utama dari wingko ini adalah kesegarannya, di mana adonan dipanggang langsung di tempat (freshly baked) sebelum dikemas dan disajikan kepada pembeli.

"Pengaturan api saat memanggang itu paling krusial. Kalau apinya terlalu besar, kulitnya cepat gosong dan keras. Tapi kalau terlalu kecil, teksturnya bisa bantat. Apinya harus benar-benar pas," jelas Dian sembari menunjukkan proses pemanggangan.

Partisipasi dalam festival Kampoeng Tempo Doeloe ini menjadi momen perdana bagi mereka untuk hadir di ajang tersebut, meski sebelumnya sempat beberapa kali mengikuti pameran kuliner lain di Jakarta. Tujuan utamanya bukan sekadar berjualan, melainkan mengenalkan jajanan klasik ini kepada anak-anak muda.

Usaha tersebut tak sia-sia. Antusiasme pengunjung terbukti tinggi. Pada hari biasa (weekdays), Dian mampu memanggang 3 hingga 4 loyang, sementara di akhir pekan (weekend), penjualan melonjak hingga 8 sampai 11 loyang per hari.

Cita rasa legendaris ini tidak hanya diminati oleh warga lokal Surabaya dan sekitarnya sebagai oleh-oleh khas, tetapi juga telah menjangkau wisatawan mancanegara seperti dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Lewat tiap gigitan hangat wingko yang baru dipanggang, tradisi kuliner nusantara ini terus hidup dan melintasi zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....