Cacing Sutra BKT Naik Kelas: Sentuhan Emas Platform Digital Ekonomi Kerakyatan
- 31 Agt 2026 18:17 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Subuh baru saja pecah di bantaran Banjir Kanal Timur (BKT). Saat sebagian warga Jakarta masih terbuai lelap, Lutfi Nugroho (38) dan rekannya, Ahmad Hanafi (45), sudah bersiap menyongsong dinginnya aliran sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Marunda Jakarta Utara. Berbekal serokan dan wadah penampung, dua pria ini melangkah menyusuri tepian kali demi berburu "emas merah" sebutan hangat mereka untuk cacing sutra.
Pekerjaan sebagai pengayak cacing sutra menuntut kejelian ekstra dan pemahaman mendalam tentang alam. Menurut Lutfi, cacing sutra tidak tersebar di sembarang tempat. Ada spot-spot khusus yang hanya diketahui oleh pencari berpengalaman. Waktu perburuannya pun terbatas: sebelum matahari terbit atau selepas asar saat cuaca mulai teduh.
"Ketika matahari terik menyengat antara pukul 8 hingga 10 pagi, cacing-cacing tersebut akan benam membenamkan diri ke dasar lumpur, " ujar Lutfi kepada RRI Jakarta, Minggu 30 Agustus 2026.
Menyelami keruhan air BKT tentu bukan tanpa lika-liku. Suka dan duka berjalin dalam rutinitas harian mereka. Di saat debit air normal, dalam satu jam mereka mampu mengumpulkan 10 hingga 15 liter cacing.
Namun tantangan berat menghadang saat musim kemarau tiba. Debit dan kualitas air yang menurun membuat populasi cacing menyusut drastis. Untuk mengumpulkan 10 liter saja, Lutfi dan Ahmad harus berjibaku merendam diri selama 3 hingga 4 jam.
Berkat kegigihan dan adaptasi teknologi, keringat yang menetes di bantaran kali kini terbayar lebih manis. Sektor UMKM nyatanya tak melulu soal bisnis kuliner atau kerajinan furnitur. Lutfi yang awalnya berburu cacing untuk meredam biaya operasional budidaya ikannya, mulai melihat peluang bisnis yang lebih luas. Melalui pemanfaatan platform digital seperti Shopee, pakan alami ini menemukan saluran pemasaran yang jauh lebih cepat, transparan, dan merakyat.
Menurut Lutfi dahulu, distribusi cacing sutra sangat terbatas pada ketersediaan lokal karena risikonya yang mudah mati. Kini, dengan teknik pengemasan yang terus ditingkatkan dan efisiensi logistik e-commerce, pemasaran cacing sutra hasil tangkapan dari lumpur BKT berhasil menembus pasar luar pulau Jawa.
"Cacing sutra ini menjadi komoditas vital yang diburu para pecinta ikan hias hingga penggemar burung kicau di berbagai pelosok negeri, " kata Lutfi.
Kisah Lutfi dan Ahmad adalah gambaran nyata tentang daya tahan ekonomi akar rumput. Di tengah derasnya arus modernisasi Jakarta, menyusuri dasar kanal BKT dan memanfaatkan teknologi digital telah membawa cacing sutra lokal naik kelas menghubungkan rezeki dari lumpur ibu kota hingga ke tangan para penghobi di seluruh Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....