Asa di Tepian Jalan: Duka Pedagang Tanaman Hias Tergerus Pasar Digital

  • 10 Agt 2026 09:36 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta - Di sebuah sudut jalan, Pak Anton (40) setia menunggui toko tanaman hias yang telah Ia kelola selama kurang lebih 10 tahun. Tempat usaha yang Ia operasikan secara mandiri ini berdiri di atas lahan retribusi bulanan sebesar Rp175.000. Dari balik dedaunan hijau yang berjejer rapi, tersimpan cerita perjalanan panjang usaha keluarga, yang kini harus berjuang keras menghadapi perubahan zaman.

Kenangan manis masa pandemi COVID-19 masih terekam jelas di benaknya. Kala itu, ketika masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, penjualan tanaman hias mengalami peningkatan pesat. Dalam sehari, Pak Anton mampu mengantongi omzet sekitar Rp1,5 juta-Rp2 juta. Pembibitan sayuran, seperti kangkung dan bayam, menjadi produk paling laris dan diburu oleh warga kompleks yang ingin bercocok tanam secara produktif di pekarangan rumah.

Namun, masa kejayaan tersebut kini berubah. Pascapandemi, angka penjualan mengalami penurunan drastis. Saat ini, pendapatan harian paling ramai hanya berkisar Rp400.000-Rp500.000. Bahkan tidak jarang Ia harus pulang tanpa membawa hasil sama sekali. Pendapatan yang minim tersebut harus dibagi untuk operasional toko, memutar modal media tanam, hingga memberi upah harian kepada anaknya yang ikut membantu berjualan.

Tantangan terberat yang dihadapi Pak Anton saat ini datang dari maraknya penjualan daring atau online. Perbedaan harga yang tipis membuat konsumen beralih ke platform digital. Bagi Pak Anton, beralih ke penjualan daring bukanlah pilihan yang realistis, karena rumitnya proses pengemasan serta tipisnya marjin keuntungan.

"Pot di sini dijual Rp5.000, di online bisa Rp3.000. Konsumen pasti pilih yang lebih murah, padahal barangnya sama. Kalau kita mau ikut online, ribet di packing dan untungnya cuma seribu dua ribu," ujar Pak Anton, Minggu 9 Juli 2026.

Untuk menghemat biaya operasional, Pak Anton memanfaatkan kebun bibit mandiri di kawasan Puncak untuk menyuplai sebagian tanaman ke tokonya. Prinsip ini Ia pegang teguh, termasuk enggan mengambil pinjaman modal ke bank, demi menghindari risiko beban utang di masa sulit.

Ia pun mengharapkan adanya perhatian atau kebijakan yang dapat menyeimbangkan persaingan antara pasar digital dan pedagang fisik. Menurutnya, keberadaan toko fisik tidak hanya menghidupkan usaha UMKM tanaman hias semata, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal lainnya, mulai dari juru parkir hingga pedagang sekitar. Di tengah lesunya pasar, Pak Anton memilih untuk terus menekuni usahanya, merawat tiap helai daun sambil berharap pembeli kembali meramaikan tokonya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....