Kicau Mania Viral, Kenapa Pasar Burung Tetap Sepi?

  • 13 Agt 2026 08:49 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pasar burung kicau di Jalan Pelepah Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara mengalami penurunan penjualan signifikan meskipun tren Kicau Mania viral di media sosial.
  • Pedagang burung kicau Kasiman hanya mampu menjual dua hingga tiga ekor burung per hari, jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum pandemi.
  • Tren digital dan fenomena Kicau Mania di media sosial belum mampu meningkatkan jumlah pembeli di pasar burung kicau secara nyata.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pasar burung kicau di Jalan Pelepah Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, masih menghadapi penurunan penjualan meski fenomena lagu bertema “Kicau Mania” ramai digunakan di media sosial. Kondisi tersebut dirasakan Kasiman, 40 tahun, pedagang burung kicau yang menyebut tren digital belum mampu mendorong peningkatan pembeli di lapaknya pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Kasiman mengatakan, jumlah transaksi di lapaknya saat ini jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum pandemi. Dalam sehari, ia rata-rata hanya mampu menjual dua hingga tiga ekor burung, bahkan terkadang tidak mendapatkan pembeli selama satu pekan.

Penjualan Burung Kicau Mengalami Penurunan

Kasiman telah menjalankan usaha sebagai pedagang burung kicau selama sekitar lima tahun setelah sebelumnya bekerja sebagai pekerja bangunan. Ia memilih usaha tersebut karena berawal dari hobi memelihara dan mengumpulkan burung serta memiliki jaringan dengan sesama pencinta burung.

Sebelum memiliki lapak di Pasar Armen, Kasiman mengumpulkan berbagai jenis burung di rumah melalui jaringan sesama pencinta burung. Kini, ia berjualan dengan membayar retribusi lapak sekitar Rp150.000 setiap bulan.

“Sebelum corona, omzet sebulan bisa mencapai Rp5 juta sampai Rp7 juta. Kalau sekarang tidak tentu, kadang tidak ada pemasukan sama sekali,” ujar Kasiman kepada RRI Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Di lapaknya, Kasiman menjual sejumlah jenis burung kicau, antara lain Murai Batu dan Lovebird. Murai Batu menjadi salah satu jenis dengan harga tertinggi sekaligus yang banyak dicari, dengan harga mencapai Rp3,5 juta per ekor, sedangkan Lovebird dijual sekitar Rp300.000.

Tren Media Sosial Belum Dongkrak Pembeli

Fenomena lagu “Kicau Mania” yang ramai di TikTok tidak secara otomatis membuat aktivitas jual beli burung kicau meningkat. Kasiman mengatakan, tren yang ramai di dunia digital tersebut belum terlihat memberikan pengaruh terhadap jumlah pembeli di lapaknya.

Menurut Kasiman, pembeli burung kicau saat ini lebih banyak berasal dari kalangan pemain lama yang sudah memahami jenis dan kualitas burung. Mereka umumnya mencari burung yang telah terlatih dan memiliki kemampuan berkicau atau biasa disebut gacor.

Kondisi tersebut berbeda dengan calon pembeli pemula yang mungkin tertarik karena mengikuti tren di media sosial. Kasiman menilai popularitas sebuah lagu atau konten digital belum cukup untuk mengubah tren tersebut menjadi peningkatan transaksi secara langsung.

Pedagang Tetap Bertahan di Tengah Pasar Lesu

Penurunan penjualan membuat pendapatan Kasiman menjadi tidak menentu dibandingkan masa sebelum pandemi. Jika sebelumnya omzet bulanan dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta, saat ini ia mengatakan pemasukan dapat berubah-ubah dan tidak jarang tidak mendapatkan pendapatan sama sekali.

Meski demikian, Kasiman tetap mempertahankan usahanya di sentra penjualan burung kicau tersebut. Setiap hari ia tetap merawat burung yang tersedia sambil menunggu pembeli yang datang ke lapaknya.

Bagi Kasiman, usaha tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga berkaitan dengan hobi yang telah ia jalani sejak lama. Ia berharap kondisi pasar burung kicau kembali membaik sehingga pedagang dapat memperoleh pembeli lebih banyak dan aktivitas perdagangan kembali meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....