Setia di Lapak Tradisional: Cerita Pedagang Pasar yang Enggan Tergiur Tren Online
- 31 Jul 2026 17:03 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Pesatnya perkembangan digital dan menjamurnya platform e-commerce kini mengubah peta perdagangan hingga ke sudut-sudut pasar tradisional. Namun, tidak semua pedagang bersedia melompat ke gelombang digitalisasi tersebut, meskipun dampaknya kian terasa pada omset harian mereka.
Aminah seorang ibu pedagang di pasar mengakui bahwa kehadiran toko-toko online menjadi salah satu pemicu utama menurunnya angka penjualan di lapaknya. "Gara-gara online juga, jadi jualan tambah menurun," ungkapnya jujur saat ditemui di lapaknya.
Meski menyadari bahwa tren belanja telah bergeser, ia mengaku tidak berminat untuk ikut-ikutan membuka toko di platform digital seperti Shopee atau marketplace lainnya. Bagi pedagang ini, kerumitan proses jualan online menjadi salah satu kendala utama.
"Enggak, malas bungkus-bungkusnya," celetuknya polos sembari tertawa kepada RRI Jakarta, Jum'at 31 Juli 2026.
Namun di balik alasan praktis tersebut, ada prinsip kepercayaan dan kualitas yang dijaganya secara teguh. Menurutnya, transaksi tatap muka di pasar tradisional memiliki nilai tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel. Ia mengkhawatirkan risiko penurunan kualitas barang jika dijual secara online, yang pada akhirnya dapat mengecewakan pembeli.
"Takutnya kalau di online itu kan kebanyakan dari sana (fotonya) bagus, pas datangnya jelek. Makanya mending langsung begini," jelasnya.
Bagi pedagang pasar seperti beliau, berjualan secara konvensional bukan sekadar urusan memindahkan barang menjadi uang. Ada interaksi langsung, kepastian kualitas bahan yang bisa dipegang dan dilihat langsung oleh pembeli, serta hubungan kepercayaan yang dibangun secara riil di atas meja lapak pasar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....