Limbah Tulang Ikan Disulap Jadi Bisnis Ratusan Juta

  • 19 Jun 2026 11:12 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Kreativitas menjadi kunci bertahan di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil. Muhammad Kohir (45), pedagang ikan asin di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, berhasil mengolah limbah tulang ikan tongkol menjadi bahan baku pakan ternak dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan, Kamis, 18 Juni 2026.

Kohir mengatakan usahanya sempat mengalami penurunan omzet dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut mendorong dirinya mencari peluang baru agar usaha yang telah dijalankan selama lebih dari dua dekade tetap bertahan.

“Penghasilan dan pengeluaran agak sedikit beda, buat bayar karyawan saja sudah mulai keteteran. Makanya, setahun lalu saya cari cara supaya usaha saya tidak tenggelam,” ujar Kohir kepada RRI Jakarta.

Melihat banyaknya limbah tulang ikan dari pedagang ikan pindang di sekitar pasar, Kohir mulai melakukan percobaan pengolahan limbah. Bersama mitranya yang dikenal sebagai Bang Santo, ia mengumpulkan tulang ikan dari 25 pedagang di Pasar Kramat Jati dan Pasar Ciracas.

Selain dari pasar tradisional, bahan baku juga diperoleh dari 10 hingga 15 dapur pengolahan ikan di kawasan Tanjung Priok hingga Kelapa Gading. Limbah yang sebelumnya dibuang kini dibeli dengan harga Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram atau melalui sistem borongan bulanan.

“Sekarang limbah itu ada harganya, bisa buat tambahan pedagang beli rokok atau keperluan lain,” ucap Kohir.

Proses pengolahan dilakukan dengan menghancurkan tulang ikan sebelum dijemur selama kurang lebih dua hari. Tahapan tersebut dilakukan untuk memenuhi standar kadar air maksimal 10 persen yang menjadi syarat dari pabrik pakan ternak.

Salah seorang pekerja, Winata (40), menjelaskan proses penjemuran membutuhkan ketelitian agar hasilnya sesuai standar. Ia bekerja sejak pagi hingga sore untuk memastikan seluruh bagian tulang ikan benar-benar kering.

“Kalau tidak dipecahin dulu tulang-tulangnya, tidak bakal bisa kering sampai ke dalam,” kata Winata.

Kisah sukses UMKM pengolahan limbah ikan ini berkembang pesat dalam waktu satu tahun terakhir. Kohir kini mampu mengirimkan sekitar lima ton bahan baku pakan ternak kering ke sebuah pabrik di Jawa Timur sebanyak tiga kali setiap bulan.

Dengan harga jual Rp7.500 per kilogram, satu kali pengiriman menghasilkan omzet sekitar Rp37,5 juta hingga Rp38 juta. Total omzet bulanan yang diperoleh mencapai lebih dari Rp110 juta meskipun biaya logistik per pengiriman berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta.

Keberhasilan usaha pengolahan limbah tulang ikan menjadi bahan pakan juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar 10 orang bekerja di berbagai bagian mulai dari pengumpulan bahan baku, penjemuran, hingga distribusi.

Winata mengaku bersyukur dapat memperoleh pekerjaan dari usaha tersebut. Menurutnya, penghasilan harian yang diterima cukup membantu kebutuhan keluarga.

“Kerjanya enjoy, penghasilan harian juga lumayan sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Pak Kohir luar biasa bisa membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran,” ujar Winata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....