Manisnya Mangrove Marunda: Mengolah Harapan di Tengah Ancaman Abrasi
- 31 Mei 2026 10:35 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA - Di sudut utara Jakarta, tepatnya di kawasan Rumah Susun Marunda, suara ombak sering kali terdengar seperti peringatan. Bagi Kiki, seorang penggerak pemberdayaan masyarakat setempat, pesisir Marunda bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah medan perjuangan untuk melestarikan lingkungan sekaligus menghidupkan ekonomi warga.
Sambil memegang sebuah wadah berisi puding lembut berwarna kecokelatan, Kiki tersenyum.
"Ini adalah puding dari buah mangrove jenis api-api," ujarnya kepada RRI Jakarta, Minggu 31 Mei 2026.
Di tangannya, buah mangrove yang biasanya terabaikan kini berubah menjadi produk kuliner yang bernilai. Tak hanya puding, Kiki dan warga Marunda juga mulai mengolah mangrove menjadi minuman segar, campuran kopi, hingga penganan tradisional onde-onde.
Namun, di balik manisnya puding mangrove tersebut, tersimpan keresahan yang mendalam. Hutan mangrove di Marunda kini semakin menyusut. Pembangunan pabrik-pabrik dan perluasan industri di sekitar pesisir sering kali mengorbankan pepohonan hijau yang menjadi benteng alami dari abrasi.
"Hutan mangrove kita mulai banyak ditebang untuk kebutuhan perusahaan. Padahal, butuh waktu 5 sampai 10 tahun bagi pohon mangrove untuk bisa tumbuh tinggi dan berbuah," ungkap Kiki dengan nada prihatin.
Baginya, setiap batang mangrove yang tumbang adalah hilangnya pelindung bagi daratan Marunda yang kian terkikis air laut.
Kiki tidak tinggal diam. Ia terus menggalakkan aksi pembibitan ulang dan penanaman mangrove. Ia bermimpi melihat pesisir Marunda kembali hijau royo-royo.
Tak hanya berhenti di urusan perut, Kiki kini mulai merambah ke dunia fesyen dengan mengembangkan batik ecoprint. Dengan memanfaatkan pola alami dari daun-daun mangrove, ia ingin menunjukkan bahwa kekayaan pesisir bisa menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Harapan Kiki sederhana namun mendalam. Ia ingin perusahaan-perusahaan di sekitar Marunda lebih peduli melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada lingkungan.
"Laut Marunda semakin terkikis abrasi. Kalau tidak kita jaga bersama, laut ini bisa habis," tegasnya.
Melalui langkah-langkah kecilnya—dari sepiring puding hingga selembar kain batik—Kiki sedang mengirimkan pesan kuat dari utara Jakarta: bahwa menjaga alam bukan hanya soal menyelamatkan bumi, tapi juga soal merajut masa depan dan martabat warga pesisir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....