Kain Perca Tak Sekadar Hobi, Jadi Ruang Kreativitas dan Peluang Usaha
- 12 Mei 2026 12:58 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kain perca yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa potongan kain ternyata dapat diolah menjadi karya seni bernilai tinggi sekaligus membuka peluang usaha. Hal itu dibuktikan oleh pengajar seni kain perca dari komunitas Kreasiku Craft Corner, Eka Yunita, yang telah menekuni dunia patchwork dan quilting selama lebih dari dua dekade.
Dalam program Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Jakarta, Selasa 12 Mei 2026, Eka Yunita mengatakan awalnya ia menekuni kerajinan tangan hanya sebagai hobi. Ketertarikannya pada seni kain perca bermula sekitar tahun 2000 setelah mengikuti kursus kerajinan kain perca di Jakarta.
“Awalnya memang hobi. Saya tertarik karena ini berbeda dengan menjahit biasa, ada tantangan menggabungkan potongan-potongan kain menjadi satu karya baru,” ujar Eka.
Kecintaannya terhadap seni kain perca terus berkembang. Ia bahkan mengikuti berbagai kompetisi dan berhasil meraih juara, yang semakin memotivasinya untuk mendalami bidang tersebut. Dari sekadar hobi, aktivitas itu kemudian berkembang menjadi profesi yang menopang kehidupannya.
“Lama-lama justru menghasilkan. Saya tidak pernah bekerja kantoran, fokus di dunia kerajinan ini,” katanya.
Tak hanya berkarya, Eka juga aktif mengajar sejak 2005. Menurutnya, mengajarkan seni kain perca memberikan kepuasan tersendiri, terutama saat melihat peserta didik mampu memahami teknik dan menghasilkan karya secara mandiri.
“Saya senang mengajar, membuka wawasan orang bahwa membuat kain perca itu ada tekniknya dan bisa dipelajari siapa saja,” ucapnya.
Menurut Eka, peminat seni kain perca saat ini masih didominasi ibu rumah tangga, meski tidak sedikit anak-anak hingga laki-laki yang tertarik mempelajarinya. Ia menilai kerajinan ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan, baik sebagai kegiatan rekreatif maupun peluang bisnis kreatif.
Beragam produk bisa dihasilkan dari seni kain perca, mulai dari taplak meja, tas, selimut, sarung bantal, hingga pakaian seperti jaket dan outer. Bahkan, karya-karya bernuansa budaya Indonesia menjadi ciri khas yang sering ia tampilkan dalam berbagai pameran.
“Kalau saya lebih suka mengangkat tema Indonesia, seperti wayang, Rahwana, atau figur Mbok Jamu. Itu yang membuat karya terasa lebih dekat dengan identitas kita,” ujarnya.
Saat ini Eka rutin mengajar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, serta aktif menggelar pelatihan di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sumatra. Melalui komunitas Kreasiku Craft Corner, ia berharap semakin banyak masyarakat yang melihat kain perca bukan sekadar limbah tekstil, melainkan ruang kreativitas yang dapat berkembang menjadi peluang usaha menjanjikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....