Strategi Bisnis Tempe di Tengah Melonjaknya Harga Kedelai
- 20 Apr 2026 17:34 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA– Menjaga warisan keluarga bukanlah perkara mudah, namun Bang Anto (38) membuktikan bahwa dedikasi dan strategi yang tepat mampu membuat usaha tradisional tetap eksis di tengah himpitan ekonomi. Perantau asal Pekalongan, Jawa Tengah ini kini sukses mengelola pabrik tempe yang telah dirintis orang tuanya sejak tahun 1981.
Bang Anto merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Menariknya, ia adalah satu-satunya anak yang bersedia meneruskan usaha tempe keluarga setelah sebelumnya sempat bekerja sebagai buruh pabrik selama lebih dari 10 tahun.
"Saya sudah 6 tahun meneruskan usaha ini. Kakak-kakak saya tidak ada yang mau, jadi saya yang ambil alih. Dibanding jadi karyawan, memang lebih nyaman jadi pengusaha sendiri," ujar Anto saat ditemui RRI Jakarta di lokasi produksinya di Jakarta Utara. Minggu 19 April 2026.
Setiap harinya, Bang Anto mengolah sekitar 100 kilogram kacang kedelai. Proses produksi memakan waktu empat hari mulai dari pengolahan awal hingga tempe siap dipasarkan. Dengan kapasitas tersebut, ia mampu meraup omzet kotor sekitar Rp1,7 juta per hari. Produk tempenya didistribusikan melalui sistem pengiriman (loper) maupun dijual langsung di pasar.
Industri tempe saat ini tengah dibayangi kenaikan harga bahan baku yang signifikan. Harga kedelai yang semula Rp9.600 per kilogram kini melonjak menjadi Rp10.800 per kilogram. Tak hanya kedelai, harga plastik pembungkus pun naik mencapai Rp55.000 per kilogram.
Untuk menyiasati hal ini tanpa mengecewakan pelanggan, Bang Anto memilih strategi "shrinkflation" atau mengurangi ukuran produk. "Harga tetap Rp10.000 per potong (isi 7 iris), tapi ukurannya saya kurangi sedikit. Tadinya panjangnya 80 cm, sekarang jadi 75 cm. Pelanggan biasanya memaklumi karena mereka tahu harga pasar sedang naik," jelasnya.
Sebagai pengusaha tempe, tantangan terbesar yang dihadapi selain harga adalah faktor alam. Cuaca hujan membuat proses fermentasi menjadi lebih sulit, sementara cuaca yang terlalu panas bisa membuat tempe terlalu cepat matang sebelum sampai ke tangan konsumen.
Selain itu, Bang Anto sangat memperhatikan kebersihan produknya. Ia rela merogoh kocek sekitar Rp1 juta per bulan untuk biaya air PAM demi memastikan pencucian kedelai dilakukan dengan air yang bersih dan higienis. Untuk biaya listrik, ia menghabiskan sekitar Rp800.000 per bulan.
Meski harus berjibaku dengan uap panas dan ketidakpastian harga, hasil dari usaha tempe ini sangat dirasakan oleh keluarganya. Bang Anto mengaku dari hasil berjualan tempe, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya dan kini telah memiliki rumah pribadi di Jakarta.
Kisah Bang Anto menjadi potret nyata ketangguhan UMKM di Jakarta yang terus berinovasi dan beradaptasi demi menjaga stabilitas pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....