Langka Bahan Baku, Pengolahan Rebon di Jakarta Utara Berhenti Produksi

  • 13 Jun 2026 18:45 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Sektor usaha mikro pengolahan hasil laut di pesisir Jakarta Utara tengah menghadapi masa sulit. Salah satu pengolah udang rebon mengungkapkan telah berhenti beroperasi total selama tujuh bulan terakhir akibat kelangkaan bahan baku yang diduga kuat dipicu oleh pencemaran limbah industri di wilayah perairan tersebut.

Sebelum dilanda krisis, usaha pengolahan rebon ini merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Dengan teknik pengolahan khusus yang melibatkan perebusan langsung setelah didapat dari nelayan serta penggunaan bumbu rahasia, produk rebon miliknya selalu habis terjual.

"Saya cari untung dari kualitas dan rasa. Alhamdulillah, belum pernah tersisa rebon saya, sebanyak apa pun itu. Dulu, omzet kotor bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta per hari jika berhasil mengolah satu ton rebon," ungkap Tarman kepada RRI Jakarta, Sabtu 12 Juni 2026.

Namun, kejayaan itu kini tinggal kenangan. Sudah tujuh bulan ia tidak lagi melakukan aktivitas produksi. Kelangkaan udang rebon di laut membuat biaya operasional, seperti sewa perahu yang mencapai Rp 600 ribu sekali jalan, tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

"Daripada saya habis (modal) dan tekor terus, ya saya stop dulu. Sekarang benar-benar 0 persen produksinya," tambahnya dengan nada kecewa.

Ia menduga kuat bahwa hilangnya udang rebon dari perairan Jakarta Utara disebabkan oleh pencemaran air laut oleh limbah dari berbagai pabrik di kawasan industri sekitar, seperti di daerah Cilincing, Marunda, dan Pasar Ikan. Menurutnya, muara-muara sungai di wilayah tersebut kini menjadi titik kumpul limbah dari berbagai industri besar.

"Di sini kan muaranya ketemu semua, dari CBL, Muara Gembong, Muara Bendera, sampai Marunda. Limbahnya jadi satu di lokasi ini semua," jelasnya.

Menanggapi situasi ini, ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk meninjau langsung kondisi di lapangan. Ia meminta pihak berwenang melalui laboratorium terkait untuk mengambil sampel air laut dan melakukan pengecekan kualitas air di titik-titik yang diduga menjadi sumber polusi.

"Harapan saya cuma satu ke pemerintah, tolong tinjau langsung ke lokasi. Kita punya laboratorium untuk pengecekan air laut, ambil sampelnya di muara-muara itu. Harus dicek airnya agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, para pelaku usaha kecil di pesisir Jakarta Utara masih menunggu kepastian dan solusi nyata dari pemerintah agar mereka dapat kembali melaut dan menjalankan roda perekonomian keluarga

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....