Ekonom Puji Diplomasi Energi Menteri Bahlil untuk Ketahanan Energi Nasional

  • 18 Mar 2026 16:25 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono, mengapresiasi diplomasi energi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terkait kerja sama Indonesia dan Jepang, di sektor energi dan mineral kritis. Dia menilai hal itu merupakan langkah strategis, dalam mendorong transisi energi hijau, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Kolaborasi itu mencakup pengembangan energi nuklir, ekspor LNG, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Hendry menilai kesepakatan itu menjadi sinyal positif, Indonesia semakin serius dalam mengembangkan energi bersih, berbasis teknologi maju.

“Dari sisi teknis dan ekonomi, Indonesia sebenarnya sudah berencana mengembangkan PLTN, sejak era 1960-an. MoU ini menunjukkan ada langkah maju, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang,” ujar Hendry saat dihubungi wartawan, Selasa, 17 Maret 2026.

Kerja sama itu tertuang dalam Memorandum of Cooperation (MoC), yang ditandatangani Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, bersama dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa.

Menurut dia, kerja sama dengan Jepang memberikan peluang besar bagi Indonesia, untuk mempercepat penguasaan teknologi energi baru, termasuk nuklir yang selama ini terkendala biaya investasi, dan transfer teknologi. Hendry menekankan, potensi keuntungan kerja sama itu juga sangat besar, jika dikaitkan dengan kekayaan sumber daya mineral Indonesia yang melimpah, terutama untuk mendukung ekosistem energi bersih.

“Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang. Ini menjadi modal kuat untuk hilirisasi, dan pengembangan industri energi hijau,” katanya.

Ia juga menyatakan, kerja sama itu tidak hanya soal pasokan energi, tetapi juga berpotensi, menciptakan dampak ekonomi berlapis bagi Indonesia. Mulai dari peningkatan efisiensi produksi, hingga penciptaan lapangan kerja. “Diharapkan ada multiplier effect bagi efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” kata Hendry.

Lebih lanjut, Hendry menyebut di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu, langkah Indonesia memperkuat kerja sama energi, dinilai sebagai keputusan yang tepat dan visioner.

“Langkah ini merupakan respons rasional terhadap disrupsi geopolitik. Posisi Indonesia saat ini, justru berada pada window of opportunity yang sangat baik,” katanya.

Sebelumnya, penandatanganan MoU energi itu dilakukan Bahlil dan Akazawa, dalam pertemuan bilateral, yang berlangsung di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Minggu, 15 Maret 2026.

Kerja sama di bidang energi nuklir, difokuskan pada pengembangan teknologi, dengan tetap mengutamakan standar keselamatan yang tinggi. Melalui kerja sama itu, Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang, untuk mengembangkan energi rendah karbon.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....