Gaya Elit, Ekonomi Sulit, Tren Mengalahkan Kemampuan Finansial
- 01 Sep 2026 09:04 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial, gaya hidup masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan. Apa yang sedang viral, populer, dan ramai diperbincangkan di media sosial dengan cepat menjadi tren yang ingin diikuti banyak orang.
Mulai dari pakaian bermerek, gawai terbaru, kendaraan, tempat nongkrong, liburan, hingga berbagai gaya hidup yang ditampilkan para influencer. Tidak sedikit orang yang kemudian merasa harus mengikuti tren tersebut agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi yang sama.
Ada yang rela menguras tabungan, berutang kepada teman atau keluarga, menggunakan paylater, bahkan mengambil pinjaman online demi memenuhi tuntutan gaya hidup. Akhirnya muncul istilah yang cukup populer di masyarakat: “gaya elit, ekonomi sulit.”
Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar persoalan seseorang tidak mampu mengatur keuangan. Di baliknya terdapat faktor psikologis dan sosial yang membuat seseorang terdorong untuk terlihat sukses, mengikuti kelompok, atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
Mengapa manusia mudah terpengaruh tren?
Salah satu penjelasannya adalah perbandingan sosial. Media sosial membuat seseorang terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia, atau lebih menarik.
Penelitian Erin A. Vogel dan rekan-rekannya menemukan bahwa paparan terhadap perbandingan sosial ke arah “atas” di media sosial dapat berkaitan dengan penurunan penilaian terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap lebih unggul, semakin besar kemungkinan muncul perasaan bahwa dirinya kurang.
Dari sinilah keinginan untuk “menyamai” orang lain dapat muncul.
Media sosial dan budaya “harus punya”
Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 2026 melalui tinjauan sistematis terhadap 55 penelitian dengan 28.531 partisipan menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara penggunaan media sosial dan materialisme.
Artinya, semakin kuat seseorang terpapar konten yang menonjolkan kepemilikan dan gaya hidup material, semakin mungkin nilai materialistik ikut berkembang.
Bukan lagi sekadar berpikir, “Saya membutuhkan barang ini,” tetapi berubah menjadi, “Saya harus punya barang ini supaya tidak kalah dari orang lain.”
Takut ketinggalan atau FOMO
Fenomena lain yang ikut mendorong perilaku tersebut adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang sedang dilakukan atau dimiliki orang lain.
Sebuah penelitian mengenai influencer media sosial menemukan bahwa paparan terhadap influencer dapat memicu perbandingan sosial dan FOMO, yang kemudian berkaitan dengan keinginan meniru serta konsumsi barang yang digunakan untuk menunjukkan status.
Ketika seseorang melihat teman atau influencer menggunakan barang tertentu, makan di tempat yang sedang viral, atau berlibur ke destinasi populer, muncul dorongan:
“Kalau orang lain bisa, masa saya tidak?”
Padahal kondisi keuangan masing-masing tentu berbeda.
Ingin terlihat sukses
Menurut kajian mengenai conspicuous consumption atau konsumsi mencolok, barang dan gaya hidup tidak selalu dibeli semata-mata karena manfaatnya. Konsumsi juga dapat menjadi cara seseorang menunjukkan status kepada orang lain.
Dalam psikologi, kebutuhan untuk terlihat berhasil bahkan dapat berkaitan dengan usaha mempertahankan harga diri. Penelitian Sivanathan dan Pettit menunjukkan bahwa konsumsi barang berstatus tinggi dapat digunakan sebagai respons psikologis ketika seseorang merasa dirinya terancam atau kurang berharga.
Jadi, terkadang yang dibeli bukan hanya barangnya.
Yang ingin dibeli adalah pengakuan.
Pengakuan bahwa dirinya sukses, mampu, keren, diterima lingkungan, dan tidak kalah dari orang lain.
Fenomena “flexing” di Indonesia
Budaya menunjukkan kemewahan di media sosial juga menjadi perhatian penelitian di Indonesia. Studi terhadap 2.296 pengguna Instagram di Indonesia meneliti bagaimana paparan terhadap konten konsumsi mencolok dapat memengaruhi aspirasi materialistik pengguna.
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi informasi. Ia juga menjadi ruang tempat seseorang membangun citra dirinya.
Yang terlihat di layar sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Rumah yang rapi, kendaraan yang bagus, restoran mahal, liburan mewah dan pakaian bermerek ditampilkan, sementara cicilan, utang, masalah keluarga atau tekanan ekonomi mungkin tidak pernah diperlihatkan.
Akibatnya, seseorang dapat membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan “versi terbaik” kehidupan orang lain.
Ketika gaya hidup mulai dibayar dengan utang
Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika keinginan mengikuti tren sudah melampaui kemampuan finansial.
Jika membeli sesuatu dengan uang yang memang tersedia dan sesuai kebutuhan, tentu tidak menjadi persoalan. Tetapi ketika seseorang mulai berutang hanya demi mempertahankan citra, risikonya menjadi jauh lebih besar.
Barang yang awalnya memberikan kepuasan mungkin hanya bertahan sebentar. Setelah itu muncul tagihan.
Dari sinilah istilah “gaya elit, ekonomi sulit” menjadi sebuah peringatan sosial.
Jangan sampai seseorang terlihat kaya di media sosial, tetapi setiap akhir bulan justru sibuk mencari pinjaman untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
Bukan berarti mengikuti tren itu salah
Mengikuti perkembangan zaman bukan sesuatu yang salah. Berpenampilan menarik, menggunakan teknologi terbaru atau menikmati hiburan juga merupakan bagian dari kehidupan modern.
Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan, keinginan dan tekanan sosial.
Sebelum membeli sesuatu karena sedang viral, ada baiknya bertanya:
Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?
Apakah saya mampu membelinya tanpa berutang?
Kalau tidak ada yang melihat atau mengetahuinya, apakah saya tetap ingin membelinya?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang sedang kita kejar bukan barangnya, melainkan pengakuan orang lain.
Bijak menggunakan media sosial
Media sosial seharusnya menjadi alat untuk mendapatkan informasi, hiburan dan membangun hubungan, bukan menjadi ukuran keberhasilan hidup.
Kita tidak harus memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Tidak harus pergi ke tempat yang sedang viral.
Tidak harus menggunakan barang bermerek.
Dan tidak harus membuktikan kemampuan finansial kepada siapa pun.
Sebab, kaya yang sebenarnya bukan tentang seberapa mahal yang terlihat di luar, tetapi seberapa sehat kondisi keuangan dan tenangnya kehidupan di dalam.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling sukses.
Lebih baik sederhana tetapi tidak punya utang konsumtif, daripada terlihat mewah tetapi setiap bulan dihantui tagihan.
Jangan sampai demi mengejar gaya hidup orang lain, kita kehilangan kemampuan untuk menikmati hidup kita sendiri.
Karena boleh mengikuti tren, tetapi jangan sampai tren yang mengendalikan kehidupan.
Gaya boleh naik kelas, tetapi kemampuan finansial harus tetap menjadi batasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....