Strategi Tiga Pilar, Prudential Jangkau Lebih dari 458 Ribu Penerima Manfaat

  • 18 Mei 2026 21:48 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Sepanjang 2025, Prudential Indonesia terus memperkuat implementasi strategi keberlanjutan melalui tiga pilar utama, yakni perlindungan kesehatan dan finansial yang mudah dijangkau, investasi yang bertanggung jawab serta praktik bisnis berkelanjutan.

Berbagai capaian berhasil diraih, diantaranya penurunan emisi hampir 17% di kantor pusat dan kantor pemasaran di enam kota, penurunan total konsumsi air sebesar 67% pada kebutuhan operasional di gedung, dan penanaman 25.300 pohon mangrove sejak 2022.

Tidak hanya itu, perusahaan juga terus memperkuat berbagai program community investment yang menjangkau 458.516 penerima manfaat, serta memperluas literasi keuangan kepada lebih dari 15 juta masyarakat, termasuk 6.400 pelaku UMKM di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, program Desa Maju Prudential terus memberikan dampak nyata bagi lebih dari 18.000 penerima manfaat.

Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, mengatakan, pihaknya percaya bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan masyarakat memiliki akses terhadap perlindungan kesehatan dan finansial yang lebih baik.

"Melalui berbagai inisiatif yang dijalankan, kami ingin mendorong perubahan perilaku yang lebih sehat dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam jangka panjang," ujar Karin dalam keterangan resminya, Senin, 18 Mei 2026.

Sebagai bagian dari komitmen Enviromental, Sosial dan Tata Kelola (ESG), perusahaan, juga telah menyelenggarakan program edukasi keberlanjutan berjudul “The Impact of Plastic Waste On Our Health and Earth: What Can We Do?” dalam format diskusi yang melibatkan karyawan, tenaga pemasar, nasabah, serta masyarakat.

Kegiatan ini mengangkat dan membahas kondisi terkini laut dan sampah plastik di Indonesia, serta mengulas dampak mikroplastik terhadap keseharian bersama Benedict Wermter, pegiat lingkungan asal Jerman yang dikenal sebagai Bule Sampah (@bule_sampah). Pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberlanjutan lingkungan.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa timbunan sampah nasional mencapai lebih dari 68 juta ton per tahun, dengan sekitar 17% di antaranya merupakan sampah plastik. Sementara itu, riset global juga mengungkap bahwa mikroplastik kini telah ditemukan dalam air minum, makanan, hingga udara yang dihirup manusia, menimbulkan potensi risiko jangka panjang bagi kesehatan.

Kondisi ini mencerminkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat kesadaran dan edukasi, serta mendorong praktik pengelolaan sampah dan kesehatan yang berkelanjutan.

Menanggulangi masalah sampah plastik dan mikroplastik memerlukan kolaborasi secara kolektif untuk mengubah kebiasaan sederhana. Kita semua memiliki peran untuk bertindak sekarang juga, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk ramah lingkungan, memilah sampah, hingga mendukung inisiatif lokal yang berfokus pada pengurangan sampah plastik.

"Perubahan kecil yang konsisten dapat menjadi langkah besar untuk masa depan lingkungan yang lebih sehat secara berkelanjutan,” kata Benedict.

Di kesempatan yang sama, dr. Angela Dalimarta, Sp.GK dari Rumah Sakit Mitra Keluarga juga hadir memberikan pesan untuk mengurangi paparan terhadap plastik dan mikroplastik. Mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia dapat memicu peradangan, merusak sel, mengganggu sistem imun, hingga berpotensi mengganggu sistem hormon dan meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang.

"Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, termasuk memilih wadah makanan yang lebih aman, serta menjaga pola hidup bersih dan sehat," ucapnya.

“Kami akan terus berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik, hari ini dan masa depan. Melalui berbagai inisiatif yang kami lakukan sepanjang tahun, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih bertanggung jawab,” tutup Karin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....