BI DKI Sebut Inflasi Jakarta April 2026 Landai 0,21 Persen

  • 05 Mei 2026 10:00 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Inflasi DKI Jakarta pada April 2026 tercatat melandai menjadi 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), turun dari 0,51 persen pada Maret 2026. Meski demikian, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,13 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan perkembangan tersebut sejalan dengan pola historis, di mana tekanan harga cenderung mereda pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri seiring normalisasi permintaan, khususnya pada komoditas pangan. Namun, penurunan inflasi tertahan oleh penyesuaian harga energi dan komoditas yang diatur pemerintah.

“Secara tahunan, inflasi Jakarta juga menunjukkan tren penurunan menjadi 2,12 persen (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,37 persen (yoy), sekaligus berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen (yoy),” kata Iwan Setiawan, di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Menurut Iwan, tekanan inflasi pada April 2026 tidak terlepas dari dinamika global. Eskalasi geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada meningkatnya biaya energi, termasuk avtur.

“Kondisi ini memicu penyesuaian tarif angkutan udara melalui kenaikan fuel surcharge sejak awal April,” ujarnya.

Selain itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026 turut memberikan kontribusi terhadap tekanan inflasi. Pemerintah kemudian merespons dengan memberikan insentif berupa PPN Ditanggung Pemerintah untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik yang mulai berlaku pada 25 April 2026 guna meredam dampak kenaikan harga.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan sebesar 1,46 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,41 persen (mtm). Kenaikan tarif angkutan udara menjadi faktor utama, meskipun sebagian tekanan tertahan oleh penurunan tarif angkutan antarkota pasca Lebaran.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi sebesar 0,88 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,23 persen (mtm). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku, seperti minyak goreng, gas elpiji, dan kemasan plastik, yang berdampak pada harga makanan olahan seperti ayam goreng.

Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi sebesar 0,36 persen (mtm), berbalik dari inflasi 1,46 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan harga terjadi pada sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras, didukung oleh pasokan yang tetap terjaga.

“Tekanan masih muncul dari kenaikan harga beras di tingkat distributor serta meningkatnya harga minyak sawit global yang memengaruhi harga minyak goreng. Gangguan rantai pasok global juga turut mendorong kenaikan biaya kemasan plastik,” kata Iwan.

Iwan menyatakan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi sebesar 0,66 persen (mtm), setelah sebelumnya mengalami inflasi 0,56 persen (mtm). Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya harga emas perhiasan sejalan dengan koreksi harga emas global.

Selama April 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat upaya stabilisasi harga melalui program pasar murah dan pangan bersubsidi. Penguatan pasokan juga dilakukan melalui kegiatan urban farming serta kerja sama dengan daerah sentra produksi.

Selain itu, distribusi pangan dijaga melalui optimalisasi armada truk keliling BUMD serta peningkatan koordinasi lintas sektor untuk menjaga ketahanan pangan dan energi, khususnya menjelang musim kemarau 2026.

Ke depan, strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif akan terus diperkuat. Langkah ini diharapkan mampu menjaga inflasi Jakarta tetap terkendali dalam kisaran target nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen sepanjang 2026.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....