Risiko Iklim Meningkat, Industri Asuransi Kembangkan Skema Parametrik

  • 21 Apr 2026 17:04 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta : Peningkatan frekuensi dan dampak bencana alam di Indonesia mendorong kebutuhan akan mekanisme perlindungan risiko yang lebih cepat, terukur, dan efisien. Salah satu pendekatan yang semakin relevan dalam konteks tersebut adalah asuransi parametrik, yang dinilai mampu mempercepat proses pemulihan pascabencana.

Di Indonesia, pengembangan asuransi parametrik terus didorong melalui kolaborasi antara industri asuransi, reasuransi, dan pemerintah. Salah satu pelaku yang terlibat dalam inisiatif ini adalah PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero), sebagai perusahaan reasuransi nasional.

Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, menyampaikan bahwa pendekatan parametrik menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya risiko akibat perubahan iklim.

“Perubahan iklim mendorong kita untuk mengembangkan pendekatan perlindungan risiko yang tidak hanya fokus pada mitigasi teknis, tetapi juga kesiapan finansial yang dapat diakses secara cepat ketika bencana terjadi,” ujar Delil Khairat dalam keterangan resminya, Selasa, 21 April 2026.

Lebih lanjut, Kepala Departemen Riset Indonesia Re, Fiza Wiraatmaja, menjelaskan bahwa asuransi parametrik dapat berperan sebagai instrumen transfer risiko pada skala makro, yang membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran negara dalam penanganan bencana.

“Pendekatan ini memungkinkan pergeseran dari skema pembiayaan pascabencana menjadi pembiayaan yang disiapkan sebelum kejadian (pre-event financing), sehingga respons dapat dilakukan lebih cepat,” katanya.

Dalam implementasinya, terdapat beberapa faktor kunci yang menentukan keberhasilan pengembangan asuransi parametrik, antara lain penggunaan data dan model risiko yang akurat, dukungan kapasitas pendanaan melalui kolaborasi multipihak, kesiapan teknologi dan sistem digital serta keterlibatan pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

Indonesia Re juga terus memperkuat kapasitasnya sebagai reasuradur nasional, termasuk melalui penguatan permodalan dan sistem teknologi untuk mendukung pengembangan produk berbasis parametrik.

Dari sisi industri, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) bersama regulator tengah membahas penguatan kerangka kelembagaan dan regulasi untuk mendukung implementasi asuransi parametrik di Indonesia.

Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, menyampaikan bahwa diskusi yang berlangsung mencakup aspek teknis, operasional, hingga pembentukan konsorsium untuk mendukung skema pembiayaan risiko bencana.

“Harapannya, ke depan akan terdapat kejelasan terkait aturan turunan dan implementasi teknis, sehingga asuransi parametrik dapat diterapkan secara lebih luas dan operasional,” ucapnya.

Dalam konteks ini, pengembangan skema konsorsium, baik melalui pembentukan entitas baru maupun optimalisasi konsorsium yang telah ada, menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji.

Pengembangan asuransi parametrik merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim. Dengan pendekatan berbasis data dan pembayaran klaim yang cepat, produk ini diharapkan dapat menjadi pelengkap penting dalam sistem perlindungan risiko di Indonesia.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam memastikan implementasi asuransi parametrik dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....