Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dorong Penguatan Rupiah

  • 20 Apr 2026 13:02 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan, Senin 20 April 2026 pagi. Rupiah tercatat naik 34 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.155 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.189 per dolar AS.

Dilansir dari antaranews.com, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi yang dianggap dapat mengurangi beban APBN," ujarnya.

Kenaikan harga BBM tersebut dilakukan PT Pertamina (Persero) terhadap sejumlah produk nonsubsidi, mulai Sabtu lalu. Harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta naik menjadi Rp19.400 per liter, dari sebelumnya Rp13.100 per liter per 1 April 2026.

Sementara itu, Dexlite ditetapkan sebesar Rp23.600 per liter dari Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp23.900 per liter dari Rp14.500 per liter. Penyesuaian ini dilakukan sesuai formula harga dasar yang mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022.

Meski demikian, penguatan rupiah masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait situasi geopolitik di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa selat tersebut masih berada dalam pengawasan ketat di tengah blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang masih berlangsung, dan situasi baru akan berubah apabila AS memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal menuju dan keluar dari Iran.

Lukman menambahkan bahwa investor juga masih cenderung menunggu hasil perundingan AS-Iran serta Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 22 April 2026.

"Namun untuk perundingan Iran-AS belum bisa dipastikan terjadi, masih simpang siur," ungkapnya.

Tim teknis kedua negara diperkirakan bertemu di Islamabad untuk merampungkan kesepakatan atas konflik yang berdampak pada pasokan energi global. Terkait RDG BI, Lukman memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga dengan retorika yang serupa seperti sebelumnya. Namun ia tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga.

"Mencermati pelemahan rupiah belakangan ini, saya melihat ada potensi suku bunga dinaikkan," kata dia.

Kerin Driyana (Mahasisswa Universitas Nasional)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....