Lonjakan Risiko Bencana Hidrometeorologi, Saatnya Perkuat Ketahanan Asuransi
- 30 Jan 2026 17:10 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta : Bencana hidrometeorologi ekstrem yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025 kembali menegaskan meningkatnya risiko bencana di Indonesia serta urgensi penguatan ketahanan sektor asuransi dan reasuransi nasional. Peristiwa ini berdampak signifikan pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan Provinsi Aceh menjadi wilayah yang mengalami dampak paling berat.
Berdasarkan pemaparan dalam iLearn Thematic Webinar: Managing NatCat Exposure: Risk Modelling and Insurance Solutions for a Resilient Future, tercatat 18 kabupaten/kota di Aceh terdampak, dengan sekitar 10 kabupaten/kota mengalami dampak paling signifikan, terutama Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur. Total korban meninggal akibat bencana ini di tiga provinsi diperkirakan mencapai sekitar 1.200 jiwa, dengan 561 jiwa berasal dari Aceh, atau lebih dari sepertiga total korban.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan pada permukiman, tetapi juga pada infrastruktur vital. Selain puluhan ribu unit rumah terdampak, ratusan jembatan di berbagai wilayah mengalami kerusakan akibat abrasi, limpasan air (overtopping), dan gerusan pada pilar jembatan. Kerusakan juga terjadi pada sistem irigasi dan bendungan, yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan ketahanan pangan lokal.
Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Syamsidik, menekankan bahwa bencana Sumatera 2025 memperlihatkan kompleksitas risiko yang semakin meningkat, baik dari sisi alam maupun tata kelola wilayah.
“Banjir ekstrem yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan yang sangat tinggi, tetapi juga oleh akumulasi aliran dari hulu, perubahan morfologi sungai, serta keterbatasan daya dukung lingkungan. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik, tetapi merambat ke aspek sosial, ekonomi, dan logistik masyarakat,” ujar Prof. Syamsidik.
Dalam forum yang sama, perspektif ilmiah mengenai bencana hidrometeorologi juga disampaikan oleh Dr. M. Rais Abdillah, Kepala Program Studi Sarjana Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menekankan bahwa secara global, mayoritas kerugian ekonomi akibat bencana alam justru berasal dari bencana hidrometeorologi, seperti cuaca ekstrem, siklon tropis, dan banjir.
Menurut Rais, bencana hidrometeorologi selama ini kerap dipersepsikan bersifat lokal, temporer, dan berdampak relatif kecil dibandingkan gempa bumi atau tsunami. Namun, kejadian ekstrem pada akhir November 2025 membuktikan sebaliknya, dengan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang signifikan, bahkan berdampak pada stabilitas makro ekonomi.
“Hujan ekstrem yang terjadi pada akhir 2025 menunjukkan bahwa kejadian dengan intensitas sangat tinggi dapat muncul dalam waktu singkat dan melampaui kapasitas sistem drainase, sungai, maupun infrastruktur yang ada,” kata Rais
Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia relatif jarang dilalui langsung oleh siklon tropis berkategori tinggi, dampak tidak langsung berupa hujan ekstrem tetap sangat signifikan. Dalam kasus November 2025, curah hujan di beberapa stasiun pengamatan bahkan melampaui total rata-rata bulanan hanya dalam dua hari. Sejumlah stasiun mencatat rekor tertinggi sejak dekade 1980-an, dengan intensitas hujan harian lebih dari dua kali ambang batas ekstrem yang ditetapkan BMKG.
“Kejadian-kejadian ekstrem seperti ini sering kali belum sepenuhnya terakomodasi dalam model historis. Ketika data ekstrem terbaru tidak masuk ke dalam perhitungan, maka estimasi risiko termasuk untuk kebutuhan asuransi dan reasuransi, berpotensi mengalami bias ke bawah,” ucapnya.
Melalui iLearn Program, Indonesia Re menghadirkan rangkaian modul pembelajaran terintegrasi yang berfokus pada penguatan kapabilitas teknis dan strategis, sekaligus membangun collective intelligence di antara pelaku industri dan pemangku kepentingan.
Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, menegaskan bahwa penguatan ketahanan bencana tidak dapat dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia, pemanfaatan data, serta pemahaman risiko yang selaras lintas sektor.
“iLearn Program, termasuk dalam hal ini iLearn Thematic Webinar, kami rancang sebagai wadah pembelajaran yang menjembatani teori dan praktik, sekaligus menyatukan perspektif regulator, praktisi industri, akademisi, dan pakar. Di tengah lonjakan risiko bencana hidrometeorologi, industri asuransi dan reasuransi membutuhkan pemahaman risiko yang lebih presisi, berbasis data, serta solusi yang dapat diimplementasikan secara nyata,” ujar Beatrix, dalam keterangan resminya, Jum’at 30 Januari 2026.
Indonesia Re memandang bahwa bencana Sumatera 2025 menjadi studi kasus penting yang menegaskan bahwa risiko kebencanaan adalah realitas yang berdampak langsung pada masyarakat, infrastruktur, ekonomi, dan stabilitas sektor keuangan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas industri perasuransian selaku national risk manager melalui pembelajaran berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan risiko bencana yang tangguh dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....