Hadapi Dedolarisasi, Indonesia Siapkan Transisi Lewat Project Garuda

  • 13 Okt 2025 18:20 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Tren dedolarisasi global tampaknya akan sulit dibendung, terutama dengan berkembangnya sistem keuangan digital lintas negara dengan peluncuran Central Bank Digital Currency (CBDC) oleh berbagai bank sentral di dunia.

Menurut Raine Renaldi, Chief of Digital Asset Committee, fenomena ini menandai babak baru dalam arsitektur keuangan global dan Indonesia tengah mempersiapkan diri untuk tidak tertinggal melalui Project Garuda. 

Raine menjelaskan bahwa dedolarisasi bukan sekedar wacana geopolitik, melainkan konsekuensi alami dari digitalisasi ekonomi dunia.

"Untuk dedolarisasi, ini tergantung arah perdagangan Indonesia. Jika kita lebih banyak berdagang dengan negara-negara yang tidak menggunakan dolar, maka dampaknya mungkin tidak besar. Tapi kita melihat tren Global memang mulai bergeser. Negara-negara besar mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan lintas batas," ujar Raine dalam keterangan resminya, Senin (13/10/2025).

Menurut Raine, langkah Indonesia untuk bergabung dengan kelompok BRICS merupakan salah satu sinyal kuat pergeseran arah perdagangan global. Negara-negara BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini sedang mengembangkan sistem pembayaran lintas negara dengan mata uang lokal, bahkan tengah merancang common currency untuk transaksi antarnegara anggota.

“Kita sudah bergabung dengan BRICS, yang bahkan mulai memperkenalkan mata uang sendiri untuk perdagangan. Ini jelas akan memicu dedolarisasi secara lebih cepat dan terstruktur,” katanya.

Lebih jauh, Raine menilai bahwa munculnya CBDC di berbagai negara, termasuk Indonesia akan mengubah cara dunia melakukan transaksi internasional. Dengan sistem baru ini, perdagangan antarnegara bisa dilakukan langsung melalui integrasi sistem digital antar bank sentral tanpa perlu perantara seperti dolar AS.

“Kalau masing-masing negara sudah punya CBDC atau mata uang digital yang diterbitkan bank sentralnya, maka transaksi antarnegara bisa dilakukan secara langsung. Tidak perlu lagi menggunakan dolar sebagai perantara,” ucapnya.

Menurutnya, inilah yang menjadikan dedolarisasi sebagai proses yang bersifat natural evolution, bukan kebijakan konfrontatif terhadap dominasi dolar.

“Artinya, dedolarisasi ini pada akhirnya tak terelakkan. Ia akan terjadi secara alami, karena sistem digital memungkinkan hubungan perdagangan yang lebih efisien, langsung, dan transparan,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Project Garuda, inisiatif Bank Indonesia untuk mengembangkan CBDC rupiah digital, dianggap sebagai langkah strategis agar Indonesia tidak tertinggal dalam arus perubahan global.

Raine menilai, dengan dukungan kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur digital nasional, serta kerangka regulasi yang semakin matang, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara yang paling siap dalam menghadapi era baru keuangan digital.

“Jika potensi ini dijaga, diberi ruang tumbuh, dan didukung oleh kebijakan yang progresif, saya yakin Indonesia akan menjadi salah satu negara paling siap di dunia ini dalam era keuangan digital,” katanya.

Analis menilai, jika dijalankan dengan hati-hati, langkah ini dapat menempatkan Indonesia di posisi strategis dalam tatanan ekonomi baru, di mana kekuatan finansial tidak lagi hanya diukur dari cadangan dolar, tetapi juga dari kemampuan digitalisasi sistem moneter dan kepercayaan terhadap mata uang nasional masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....