CEO Forum, Penguatan Industri Perasuransian Melalui Standarisasi Data
- 26 Mar 2025 14:30 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta : PT Reasuransi Indonesia Utama (Indonesia Re) sukses menggelar Indonesia Re CEO Forum 2025, sebuah forum strategis yang mempertemukan pemimpin industri asuransi, regulator serta pemangku kepentingan guna membahas tantangan utama industri perasuransian dan solusi berbasis penguatan data serta kolaborasi.
Mengusung tema utama "Killing Many Birds with One Stone : Dealing with Multiple Insurance Industry Challenges by Strengthening Data Usage & Collaboration", diskusi ini berlangsung di The St. Regis Hotel Jakarta, Kamis (20/03/2025) berfokus pada penguatan pengelolaan data di industri asuransi umum serta transformasi koordinasi di asuransi kesehatan dan skema employee benefit.
Direktur Utama Indonesia Re, Benny Waworuntu, menegaskan bahwa pengelolaan data yang akurat dan terintegrasi merupakan kunci bagi para pelaku industri asuransi untuk menyiapkan produk dan servis yang tepat sasaran. Di tahun 2024, premi asuransi umum di Indonesia naik 8.7% dibanding tahun sebelumnya, mencapai 112.86 triliun rupiah. Sementara premi asuransi jiwa mencatat angka hingga 185,39 triliun rupiah, tumbuh 4.3% dibanding tahun sebelumnya.
"Meskipun data mencatatkan angka positif, tetapi industri asuransi Indonesia masih memiliki tantangan signifikan dalam regulasi, literasi dan penetrasi pasar,” ujarnya.

Benny menjelaskan, digitalisasi, transparansi, dan kolaborasi antar industri menjadi kunci keberhasilan ke depan.
"Acara ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara regulator dan industri dalam mendorong digitalisasi serta penguatan tata kelola data.” katanya saat membuka acara Indonesia Re CEO Forum 2025.
Tidak hanya dari sisi praktisi, regulator sektor asuransi juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis data untuk membangun ekosistem yang stabil dan berkelanjutan.
Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang (DAJP) OJK, Soemarjono menyampaikan, tidak hanya pengolahan data sebagai aset, tetapi infrastruktur yang kuat juga perlindungan data dan keamanan siber menjadi prioritas pemangku kebijakan saat ini.
“OJK telah menerbitkan POJK No. 23/2024 untuk memastikan transparansi, akurasi, dan ketepatan waktu laporan berkala.” ucapnya.

Diskusi sesi pertama dalam Indonesia Re CEO Forum 2025 mengangkat topik "Enhancing Industry Data Management to Strengthen the Resilience and Competitiveness of Non-Life Insurance Sector", menyoroti pentingnya pengelolaan data yang terintegrasi guna memperkuat daya saing industri asuransi umum.
Diskusi ini menghadirkan narasumber dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disampaikan oleh Kurnia Yuniakhir selaku Deputi Direktur Pengawasan Asuransi Umum dan Reasuransi, dilanjutkan dengan pemaparan dari Rianto Ahmadi, Direktur Teknik Indonesia Financial Group (IFG), dan dari Delil Khairat, Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, yang membahas berbagai tantangan serta peluang dalam pengelolaan data industri asuransi umum. Salah satu isu utama yang diangkat adalah urgensi pembentukan badan pengelola data terintegrasi yang independent dan dikelola oleh Pemerintah, guna meningkatkan transparansi dan akurasi dalam industri perasuransian.
“Dengan total aset mencapai 619,23 triliun dari sektor asuransi jiwa dan asuransi umum mencapai 252,37 triliun rupiah, kita bisa melakukan reformasi sektor asuransi dengan cara penguatan modal dan pendalaman pasar, juga penerapan standar internasional.” ujar Deputi Direktur Pengawasan Asuransi Umum dan Reasuransi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kurnia Yuniakhir dalam paparannya.
Standarisasi data dan format pelaporan juga menjadi perhatian utama, mengingat pentingnya sistem data yang seragam dalam meningkatkan efisiensi klaim serta akurasi penilaian risiko, sehingga memungkinkan industri asuransi untuk lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan regulasi.
Selain itu, forum ini juga menyoroti implementasi teknologi digital sebagai faktor kunci dalam memperkuat tata kelola transaksi reasuransi. Pemanfaatan inovasi seperti cloud computing, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan blockchain dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses klaim, serta memitigasi risiko fraud di industri asuransi umum. Dengan sinergi antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri, diharapkan transformasi digital dan optimalisasi pengelolaan data dapat mendorong daya saing sektor asuransi nasional di tengah lanskap bisnis yang semakin kompleks.
Sebagai tindak lanjut dari inisiatif taksonomi data asuransi, yang sebelumnya ditandatangani oleh Indonesia Re dan Indonesia Financial Group (IFG) dalam Indonesia Re CEO Forum 2024, forum ini mendorong implementasi pemetaan Chart of Account (CoA) teknik dan master library di industri asuransi secara konsisten. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat analisis risiko, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan kepatuhan regulasi dalam transaksi reasuransi.
Selain itu, forum ini juga menggarisbawahi pentingnya percepatan transformasi digital sesuai dengan Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Perasuransian Indonesia 2023–2027 yang dirumuskan oleh OJK, guna meningkatkan literasi asuransi, jangkauan pemasaran, serta kualitas layanan industri.
Panel kedua dalam forum ini mengangkat topik "Transforming Employee Benefit Portfolio: Strategy on Data Standardization, Operation, and Coordination of Benefit", yang membahas strategi optimalisasi pengelolaan data dan koordinasi dalam industri asuransi kesehatan serta skema employee benefit. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari Marsh Mercer Benefit, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Asuransi Sompo Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membahas berbagai tantangan dan solusi dalam asuransi jiwa dan kesehatan.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah standarisasi data klaim asuransi kesehatan guna meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam proses administrasi. Selain itu, forum ini juga menyoroti pentingnya koordinasi mengenai operasional antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta dalam mekanisme Coordination of Benefit (COB) agar dapat mengurangi tumpang tindih klaim yang dikhawatirkan terjadi dalam operasional opsi ini.
Sebagai BUMN yang memiliki peran strategis dalam mendukung stabilitas industri perasuransian nasional, Indonesia Re terus berkomitmen menjadi katalisator dalam membangun sinergi antara regulator dan pelaku industri guna menghadapi tantangan di era digital.
"Melalui Indonesia Re CEO Forum 2025, kami berharap dapat mendorong langkah konkret dalam memperkuat tata kelola data, meningkatkan transparansi transaksi reasuransi, serta memastikan bahwa industri asuransi Indonesia semakin kompetitif dan berdaya tahan dalam menghadapi tantangan global," kata Delil Khairat, Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re.
Dengan adanya forum ini, Indonesia Re berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem industri perasuransian yang lebih sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....