PLN EPI Mulai Uji Co-firing Amonia di PLTU Labuan pada 2027
- 01 Okt 2026 19:48 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan uji coba co-firing amonia dengan tingkat pencampuran maksimal 3 persen di PLTU Labuan pada 2027. Uji coba tersebut menjadi tahap awal pengembangan amonia sebagai salah satu opsi bahan bakar rendah karbon untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, saat ini PLN EPI masih melakukan kajian terkait pasokan dan teknologi amonia. Uji coba diperlukan untuk memperoleh data mengenai aspek teknis dan keekonomian sebelum penerapannya dikembangkan lebih lanjut.
“Untuk amonia, kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya,” ujar Hokkop dalam diskusi panel Fuel Switching and Co-firing: The Way Forward for Emissions Reduction in Thermal pada Electricity Connect 2026, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, PLN EPI telah memulai studi pasokan amonia pada 2026. Salah satu sumber pasokan awal yang dikaji berasal dari Pupuk Kujang Cikampek.
Setelah uji coba pada 2027, PLN EPI akan melakukan evaluasi teknis dan studi keekonomian pada 2028. Tahap berikutnya adalah pengembangan integrasi rantai pasok pada 2029 dan studi kelayakan penerapan co-firing sekitar 3-5 persen atau lebih pada 2030.
Hokkop mengatakan harga amonia masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangannya sebagai bahan bakar pembangkit. “Untuk saat ini, harganya masih menjadi tantangan. Karena itu, kita perlu melakukan pilot terlebih dahulu, belajar dari sana, kemudian melihat bagaimana teknologi dan keekonomiannya berkembang,” katanya.
Selain harga, PLN EPI mengkaji ketersediaan pasokan amonia karena komoditas tersebut juga dibutuhkan industri, terutama sektor pupuk. “Kalau kita berbicara dengan produsen amonia di Indonesia, ada persoalan kebutuhan untuk pembangkit dan kebutuhan industri. Jadi harus dilihat bagaimana prioritas pemanfaatannya,” ujar Hokkop.
Pihaknya juga mencermati volume pasokan, harga, infrastruktur, logistik, dan kontinuitas pasokan sebagai bagian dari pengembangan rantai pasok amonia.
Dalam forum yang sama, turut dibahas potensi co-firing amonia dengan tingkat lebih tinggi pada pembangkit tertentu. Salah satunya PLTU Jawa 9 dan 10 berkapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW).
Berdasarkan kajian yang dipaparkan dalam forum, konfigurasi teknologi pembangkit tersebut memiliki potensi teknis untuk mendukung co-firing amonia hingga 60 persen dengan modifikasi tertentu. Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengendalian emisi nitrogen oksida (NOx).
Namun, potensi 60 persen tersebut merupakan hasil kajian pada konfigurasi pembangkit tertentu dan bukan target penerapan PLN EPI untuk seluruh PLTU. PLN EPI tetap memulai pengembangan dari uji coba maksimal 3 persen di PLTU Labuan.
“Pengembangan hidrogen dan amonia tersebut merupakan bagian dari roadmap PLN EPI hingga 2030 dan agenda PLN Group menuju Net Zero Emissions (NZE) 2060,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....