Pengusaha Ungkap Cara Hadapi Persoalan Utang dalam Perjalanan Bisnis

  • 15 Agt 2026 16:35 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Sejumlah pengusaha membagikan pengalaman menghadapi persoalan utang dalam perjalanan bisnis, mulai dari utang Rp350 miliar, menerbitkan hingga 800 cek kosong, hingga menghadapi piutang sekitar US$15 juta. Pengalaman tersebut disampaikan dalam talk show bertajuk “75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang” yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya.

Talk show yang dipandu jurnalis, pengusaha, dan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan tersebut mempertemukan sejumlah pengusaha yang pernah menghadapi persoalan utang dan kemudian membangun kembali bisnis mereka.

Pengusaha bidang sistem teknologi informasi Tri Dawang menceritakan pengalamannya ketika bisnis masih memiliki banyak utang pada 2021. Saat itu, ia meyakini bahwa utang merupakan bagian dari kebutuhan untuk mengembangkan bisnis.

“Setelah seluruh utangnya dilunasi, saya menemukan bahwa bisnis tetap dapat berkembang dengan pengelolaan yang lebih disiplin tanpa terus menambah utang,” kata Tri melalui keterangan tertulis, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Pengalaman serupa disampaikan Mulyono, pengusaha asal Sragen yang selama hampir tiga dekade menjalankan Turrima Agrobiotech, perusahaan yang memproduksi pupuk organik berbasis Humic Acid.

Selama sekitar 17 tahun, bisnis Mulyono berkembang dengan dukungan utang. Namun, ia menyebut kondisi bisnis tersebut sebenarnya “keropos” karena terlalu bergantung pada utang.

Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World pada 2017 dan mengikuti coaching syariah, utangnya berhasil dilunasi pada 2018. Sejak saat itu, Mulyono memilih tidak lagi menggunakan utang sebagai mesin utama pertumbuhan bisnis.

Bisnisnya tetap berkembang hingga memasuki pasar Afrika dan Timur Tengah. Di Afrika, ia menjalani proses pembuktian produk melalui uji coba pupuk senilai sekitar Rp2 miliar selama dua tahun tanpa menerima pembayaran.

Setelah melalui proses tersebut, produknya disebut mampu meningkatkan produksi padi hingga 40 persen dan mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian Kamerun, Gabriel Mbairobe.

Pengalaman lain disampaikan Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo.

Ia sebelumnya mendistribusikan produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di berbagai wilayah Jawa hingga luar Jawa. Ekspansi tersebut membuat bisnis berkembang cepat sekaligus meningkatkan beban utang.

Sementara itu, Zainur Nurochman, pengusaha yang pernah bergerak di bidang ekspor perikanan dan kemudian masuk bisnis kontraktor, menghadapi persoalan berupa piutang sekitar US$15 juta yang sulit ditagih.

Sementara itu, Dahlan Iskan menilai keputusan untuk menghentikan laju utang membutuhkan keberanian. pengusaha perlu menentukan kapan harus mempertahankan skala usaha dan kapan harus mengurangi beban untuk menjaga kesehatan bisnis.

“Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar Dahlan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....