Peneliti IPB dan Universitas Malang, Dorong Revolusi Kopi Berbasis Masyarakat

  • 12 Agt 2026 17:12 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Tim peneliti dari IPB University bersama Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi mengembangkan Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, sebagai living lab Revolusi Kopi. Melalui Program Bestari Saintek yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim bersama masyarakat mencari solusi persoalan kopi secara langsung di lapangan.

Ketua tim, Dr Yessie Widya Sari dari Departemen Fisika IPB University menuturkan, pendekatan yang digunakan adalah “jemput bola” dan co-creation atau kreasi bersama. Tim tidak membawa paket teknologi yang sudah jadi, tetapi terlebih dahulu memetakan persoalan bersama petani, pelaku usaha, BUMDes, dan pemerintah desa.

“Pendekatan co-creation membuat masyarakat tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi turut menciptakan solusi. Dalam living lab, kami tidak ingin datang dengan teknologi lalu meminta masyarakat menggunakannya. Kami mulai dari persoalan yang mereka hadapi, kemudian bersama-sama menentukan apa yang dapat dilakukan,” ujar Dr Yessie, dikutip dari siaran press IPB University. Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurutnya pemilihan Sumberdem sebagai living lab didukung oleh ekosistem kopi yang telah berkembang di masyarakat, mulai dari budi daya, pengolahan hingga pemasaran. Keberadaan petani, pelaku usaha, BUMDes, Kampoeng Kopi Sumberdem, dan pemerintah desa menjadi modal penting untuk menghubungkan inovasi dengan aktivitas ekonomi lokal.

Proses co-creation ini kembali dimatangkan melalui Temu Kolaborasi Revolusi Kopi pada (8/8). Kegiatan ini menjadi ruang untuk kembali mendiskusikan persoalan, kebutuhan, kesiapan, dan bentuk solusi yang akan dikembangkan. Kegiatan tersebut melibatkan IPB University, UM, Pemerintah Desa Sumberdem, petani dan pelaku kopi, BUMDes Sumberdem, Kampoeng Kopi Sumberdem, serta Su-re.co.

Tiga Pilar Revolusi Kopi

Dari proses tersebut, tim menemukan tiga persoalan utama, yakni pengelolaan limbah kopi, sistem ketertelusuran (traceability), serta penguatan kelembagaan dan pemasaran kopi. Ketiga persoalan ini menjadi dasar tiga pilar Revolusi Kopi Sumberdem, yaitu Waste to Energy, Digital Traceability, serta Kelembagaan dan Kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Pada pilar Waste to Energy, tim mengembangkan pemanfaatan limbah kopi melalui teknologi biogas yang menghasilkan energi dan bio-slurry untuk pertanian. Kegiatan juga dilanjutkan dengan pelatihan pengelolaan limbah dan survei lokasi penempatan kantong biogas bersama masyarakat.

Tim besama masyarakat melakukan survei lokasi penempatan kantong biogas di Desa Sumberdem.Tim bersama masyarakat melakukan survei lokasi penempatan kantong biogas di Desa Sumberdem.

Perkuat Identitas dan Posisi Tawar Kopi

Pada pilar Digital Traceability, Dr R Dikky Indrawan dari Sekolah Bisnis IPB University mengembangkan sistem untuk menelusuri perjalanan kopi sejak kebun petani hingga konsumen. Sistem ini diarahkan untuk memperkuat transparansi, identitas, dan daya saing kopi Sumberdem.

Sementara itu, Dr Rina Mardiana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia IPB University berfokus pada penguatan kelembagaan dan kapabilitas SDM melalui leadership in product knowledge. Pendekatan ini diharapkan melahirkan champion lokal yang memahami kopi dari budi daya hingga pemasaran.

Bagi petani, penguatan ekosistem tersebut diharapkan meningkatkan posisi tawar. “Harapannya, kita sebagai petani kopi dapat menentukan sendiri harga jual kopi kita tanpa dimainkan tengkulak. Kopi kita bisa semakin dikenal, dan kita bisa terus menjalin komunikasi dengan tim untuk mencapai mimpi ini,” ungkap Trisno, salah satu petani kopi Sumberdem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....