LNG Diproyeksi Jadi Tulang Punggung Pasokan Gas PLN hingga 2034
- 03 Agt 2026 11:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN (Persero) memproyeksikan peran liquefied natural gas (LNG) dalam bauran pasokan gas untuk pembangkit listrik akan semakin besar dalam delapan tahun ke depan. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan ketidakpastian geopolitik global, LNG dinilai akan menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung transisi energi.
Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) yang juga menjabat Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik dipicu oleh ekspansi industri, elektrifikasi transportasi, berkembangnya kawasan ekonomi baru, hingga meningkatnya kebutuhan pusat data yang diperkirakan memerlukan tambahan pasokan listrik sekitar 15 gigawatt dalam lima tahun mendatang.
“Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional,” ujar Rakhmad saat menjadi pembicara pada The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Jimbaran, Bali, dikutip, Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, kebutuhan energi primer nasional diperkirakan meningkat sekitar 2 persen setiap tahun. Sementara itu, permintaan listrik diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yakni 4,6 hingga 5,4 persen per tahun. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan pasokan gas dan LNG yang lebih andal untuk menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan, terutama seiring meningkatnya pemanfaatan energi baru terbarukan.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diproyeksikan naik dari 304,4 terawatt hour (TWh) menjadi 584,3 TWh. Pada periode yang sama, porsi pembangkit berbahan bakar batu bara diperkirakan turun menjadi sekitar 47 persen, sedangkan kontribusi energi baru terbarukan meningkat hingga 33 persen. Dalam skenario tersebut, LNG diposisikan sebagai balancing fuel untuk menjaga keandalan sistem ketika produksi listrik dari pembangkit surya maupun angin berfluktuasi.
PLN juga memperkirakan kebutuhan gas pembangkit meningkat rata-rata 4,5 persen per tahun, dari 1.748 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034. Seiring kenaikan tersebut, porsi LNG dalam pasokan gas PLN diproyeksikan meningkat dari 57 persen menjadi 67 persen.
Untuk mengamankan kebutuhan tersebut, PLN EPI telah memperkuat kontrak pasokan gas dan LNG jangka panjang dengan sejumlah perusahaan, antara lain West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kesepakatan tersebut mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD serta kontrak LNG lebih dari 49 juta ton.
Di sisi infrastruktur, PLN mempercepat pengembangan fasilitas penyimpanan dan regasifikasi LNG, termasuk pembangunan floating storage regasification unit (FSRU) di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon, serta pengembangan klaster gasifikasi di kawasan Indonesia Timur. Kapasitas penyimpanan LNG nasional juga ditargetkan mencapai sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi hingga 3.850 MMSCFD.
Rakhmad menegaskan pengembangan energi baru terbarukan tetap menjadi prioritas. Namun, menurutnya, sistem kelistrikan nasional tetap memerlukan pasokan energi yang mampu menjaga keandalan jaringan.
“Gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....