Regulasi dan Jaminan Insentif Fiskal, Kunci Pengembangan Intermediate Industry
- 24 Jul 2026 19:21 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepastian regulasi serta jaminan insentif fiskal menjadi kunci utama bagi Pemerintah dalam mendorong pengembangan industri antara (intermediate industry) dan material lanjut (advanced materials) di Indonesia.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar mengatakan, saat ini Indonesia sudah melakukan hilirisasi. Meski demikian, produknya hanya sampai produk setengah jadi atau belum produk akhir.
"Ya, secara umum saat ini kita memang sudah hilirisasi. Namun itu hanya sampai produk setengah jadi atau belum produk akhir, sehingga nilai tambahnya tidak maksimal. Karena nilai tambah terbesar justru berada pada tahapan industri lanjutan dan sampai produk akhir," ungkap Bisman, dalam sebuah forum "Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing" di Wisma Danantara Indonesia belum lama ini.
Maka dari itu untuk memaksimalkan potensi hilirisasi mineral nasional diharapkan tidak terhenti hanya pada produk setengah jadi, melainkan harus mampu menembus industri manufaktur strategis bernilai tambah tinggi.
"Indonesia memiliki keunggulan pada sisi hulu berkat cadangan mineral yang melimpah. Komoditas tersebut meliputi nikel, tembaga, bauksit, timah, silika, rare earth elements (REE), besi, hingga emas, perak, galium, dan tantalum," ujarnya, dikutip pada Jumat, 24 Juli 2026.
Berbagai komoditas tersebut saat ini telah diolah menjadi produk hilirisasi dasar. Untuk nikel misalnya telah menghasilkan feronikel (FeNi), nickel pig iron (NPI), mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt sulfat, sementara tembaga telah diolah menjadi copper cathode, wire rod, kabel, tube, dan strip.
Sementara itu, bauksit juga telah menghasilkan alumina, aluminium ingot, billet, extrusion, plate, hingga foil. Adapun timah telah diolah menjadi tin ingot, hingga solder wire, sedangkan silika menghasilkan silica, dan REE menjadi material magnet. Tak lupa, emas perak diproduksi menjadi materi elektronik.
Meski potensi hilirisasi mineral nasional sangat menjanjikan, namun Indonesia masih dihadapkan dengan tantangan kesenjangan terbesar pada industri antara (intermediate industry) dan advanced materials yang berfungsi sebagai penghubung antara hasil hilirisasi mineral dengan industri manufaktur strategis.
"Akibatnya, banyak material berteknologi tinggi masih harus dipenuhi melalui impor," ungkapnya.
Selain material khusus, Indonesia juga dinilai masih memiliki keterbatasan dalam memproduksi komponen industri bernilai tinggi. Komponen tersebut mencakup chip, transistor MOSFET dan IGBT, printed circuit board (PCB), sensor, radar, modul komunikasi, motor BLDC, battery cell hingga battery pack dan battery management system (BMS), serta komponen presisi untuk industri dirgantara.
"Untuk pengembangan material lanjut, maka yg penting itu Pemerintah perlu memberikan jaminan hukum, kepastian regulasi dan insentif baik fiskal dan non fiskal," tegas Bisman.
Maka dari itu ia berharap melalui forum tersebut dan forum lainnya bisa terus mendorong kebijakan pemerintah dalam setiap kerja sama dengan asing juga harus dengan transfer teknologi.
"Selain investasi modal, kita juga mesti mendorong transfer teknologi, Sumber Daya Manusia (SDM) dan juga membangun ekosistem industri berbasis mineral," harapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....