Program B50 Dinilai Mampu Tekan Impor BBM

  • 13 Jul 2026 17:19 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Penerapan program biodiesel B50, dinilai dapat menjadi salah satu langkah strategis pemerintah, untuk memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan Indonesia. Kebijakan itu diharapkan mampu mengurangi ketergantungan, terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, sehingga kebutuhan devisa untuk membeli energi dari luar negeri dapat ditekan.

Dilansir dari antaranews.com, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut implementasi B50 berpotensi memberikan dampak positif, terhadap nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan, apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik. "Pengurangan impor solar akan membantu mengurangi tekanan terhadap defisit neraca migas, yang belakangan meningkat akibat tingginya impor energi," ujarnya di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

Secara makroekonomi, manfaat terbesar dari B50 berasal dari potensi penghematan devisa negara. Dengan berkurangnya impor solar, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga minyak dunia, sekaligus memperkuat posisi sektor eksternal. Kondisi itu dinilai penting, terutama setelah neraca perdagangan Indonesia sempat mengalami defisit, yang dipicu meningkatnya impor migas.

Meski demikian, implementasi B50 juga memiliki sejumlah tantangan. Jika harga minyak sawit mentah (CPO) meningkat tajam, sementara harga minyak dunia menurun, biaya produksi biodiesel dapat menjadi lebih tinggi dibandingkan solar impor. Dalam kondisi itu, pemerintah atau badan pengelola dana sawit, berpotensi menanggung selisih biaya yang lebih besar, sehingga memengaruhi beban fiskal.

Selain aspek fiskal, peningkatan kebutuhan minyak sawit untuk bahan baku biodiesel, juga perlu diimbangi dengan pengelolaan pasokan yang baik. Tanpa pengaturan yang memadai, peningkatan permintaan sawit untuk sektor energi, berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku minyak goreng, dan produk pangan berbasis sawit. Oleh karena itu, keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan, menjadi faktor penting dalam keberhasilan program B50. (Kristison Effendi - mahasiswa magang Universitas Bunda Mulia)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....