Warga Jakarta Ubah Limbah Tulang Ikan Jadi Rupiah di tengah Pencemaran
- 19 Jun 2026 11:16 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil, warga pesisir Jakarta menemukan cara baru menghasilkan pendapatan dari limbah tulang ikan. Muhammad Kohir (45), pedagang ikan asin di Jakarta Utara, mengolah limbah tulang ikan tongkol menjadi bahan baku pakan ternak di saat masyarakat pesisir juga menghadapi ancaman pencemaran lingkungan, Kamis, 18 Juni 2026.
Upaya tersebut dilakukan Kohir setelah usaha ikan asinnya mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Ia mencari sumber pendapatan baru agar usahanya tetap bertahan dan para pekerja yang bergantung pada usahanya tetap memiliki pekerjaan.
"Buat bayar karyawan saja saya sudah mulai keteteran. Makanya, setahun lalu saya cari cara supaya usaha saya tidak tenggelam," ujar Kohir kepada RRI Jakarta.
Kohir kemudian bekerja sama dengan rekannya, Santo, untuk mengumpulkan limbah tulang ikan dari sejumlah pasar dan dapur pengolahan ikan di Jakarta. Limbah yang sebelumnya dibuang kini dibeli dari para pedagang sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi mereka.
Tulang ikan yang terkumpul selanjutnya dijemur hingga kadar airnya mencapai sekitar 10 persen sesuai standar kebutuhan pabrik pakan ternak. Proses tersebut melibatkan sejumlah pekerja yang setiap hari memecah dan menjemur tulang ikan di bawah sinar matahari.
Salah seorang pekerja, Winata (40), mengatakan pekerjaan tersebut memang cukup berat namun mampu membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Ia berharap para pekerja informal juga mendapatkan perhatian berupa perlindungan sosial dan jaminan kesehatan.
"Kerjanya memang melelahkan, tapi kami senang bisa membantu mengurangi pengangguran di sini," ucap Winata.
Bisnis pengolahan limbah tulang ikan tersebut kini berkembang menjadi usaha dengan skala yang cukup besar. Kohir mampu mengirim sekitar 5 ton bahan baku pakan ternak kering ke pabrik di Jawa Timur sebanyak tiga kali setiap bulan.
Dengan harga jual sekitar Rp7.500 per kilogram, satu kali pengiriman menghasilkan omzet sekitar Rp37,5 juta. Total omzet yang diperoleh dapat mencapai lebih dari Rp110 juta per bulan sebelum dikurangi biaya transportasi dan operasional.
Namun, keberhasilan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi sebagian masyarakat pesisir Jakarta Utara yang bergantung pada hasil laut. Mereka mengeluhkan semakin sulitnya memperoleh tangkapan akibat dugaan pencemaran di sejumlah wilayah perairan.
Pengolah udang rebon, Saudi bin Mirsan (62), mengaku sudah tujuh bulan kesulitan mendapatkan bahan baku. Menurutnya, populasi udang rebon dan ikan di beberapa kawasan pesisir mengalami penurunan drastis dalam beberapa waktu terakhir.
"Sekarang cari rebon sulit sekali. Dulu cukup sedikit solar sudah dapat banyak, sekarang solar berliter-liter pun hasilnya zonk," kata Saudi.
Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pencemaran limbah industri yang masuk ke kawasan muara sungai di wilayah Marunda, Cilincing, dan Kanal Banjir Cakung Drain. Saudi berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap kualitas air untuk memastikan penyebab menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....