WGSH Kembangkan Properti Berbasis AI, Bidik Solusi Backlog 30 Juta Rumah

  • 10 Jun 2026 00:05 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH)⁠ memperkuat transformasi bisnisnya dengan mengembangkan proyek properti berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Landlogic. Melalui proyek tersebut, perusahaan menargetkan tidak hanya pertumbuhan bisnis jangka panjang, tetapi juga berkontribusi terhadap penyediaan hunian di tengah backlog perumahan nasional yang diperkirakan mencapai sekitar 30 juta unit.

Landlogic merupakan proyek properti yang dikembangkan setelah WGSH mengakuisisi PT Lereng Lembah Madu pada 2025. Perusahaan telah melakukan pengembangan dan pemecahan lahan menjadi 178 kavling perumahan yang dirancang sebagai kawasan hunian dengan dukungan teknologi digital dalam berbagai aspek operasional.

Komisaris Utama WGSH Ikin Wirawan mengatakan sektor properti masih memiliki prospek pertumbuhan yang besar seiring tingginya kebutuhan masyarakat terhadap hunian. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan pendekatan baru melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

“Landlogic menjadi contoh bagaimana teknologi dapat diterapkan pada sektor riil untuk meningkatkan efisiensi bisnis sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik kepada konsumen,” kata Ikin, di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Dalam proyek tersebut, WGSH mengintegrasikan teknologi Winsage.AI yang berfungsi sebagai digital employee. Sistem tersebut memungkinkan calon konsumen memperoleh layanan dan informasi secara otomatis melalui platform WhatsApp dengan memanfaatkan basis data internal perusahaan.

“Penerapan AI tersebut diharapkan dapat mempercepat proses komunikasi dengan pelanggan, mendukung pengambilan keputusan, serta meningkatkan produktivitas tim pemasaran dan penjualan,” ujarnya.

Dari sisi bisnis, Landlogic diproyeksikan menjadi salah satu aset strategis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan. WGSH menargetkan seluruh kavling dan unit rumah dalam proyek tersebut dapat terjual hingga 2029.

Perusahaan memperkirakan proyek itu berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp140 miliar dengan laba bersih lebih dari Rp20 miliar. Selain itu, nilai appraisal tanah yang telah melampaui Rp50 miliar dinilai menjadi indikator kuat potensi ekonomi proyek tersebut.

Ikin menegaskan WGSH melihat teknologi bukan hanya relevan bagi perusahaan digital, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor-sektor tradisional, termasuk industri properti.

“Melalui Landlogic, Perseroan ingin menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya relevan bagi perusahaan digital, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi sektor riil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian,” ujarnya.

Selain Landlogic, WGSH juga mengembangkan sejumlah proyek di sektor lain sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis. Salah satunya adalah Tumbara, perusahaan distribusi pangan yang berfokus pada komoditas seafood. Melalui kepemilikan saham sebesar 10 persen, WGSH terlibat dalam pasokan udang vannamei ke salah satu jaringan supermarket nasional.

Perusahaan juga mengembangkan Blue Phoenix melalui PT Qorser Teknologi. Proyek tersebut bergerak di bidang ekonomi sirkular dengan fokus pada perdagangan limbah botol plastik PET yang telah diolah menjadi flakes sebagai bahan baku industri daur ulang.

WGSH menilai kombinasi antara teknologi, kebutuhan pasar, dan dampak sosial akan menjadi fondasi utama dalam pengembangan bisnis ke depan. Perusahaan berkomitmen memperluas integrasi teknologi di seluruh lini usaha sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....