Inovasi Warga Koja Ubah Limbah Kayu Jadi Pelet Biomassa Pengganti Elpiji
- 12 Mei 2026 18:43 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Kreativitas warga Jakarta Utara dalam mengelola limbah kembali melahirkan inovasi yang luar biasa. Di bawah kepemimpinan Dani Arwanto (51), warga RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, berhasil menciptakan pelet biomassa dari limbah organik keras sebagai alternatif bahan bakar gas elpiji.
Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap lingkungan di Gang Hijau Cemara, yang kini juga menjadi Basecamp Kampung Pramuka. Pak Dani, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pelet biomassa ini dibuat dari limbah yang biasanya ditolak oleh Tempat Pembuangan Akhir (TPA), seperti ranting pohon, sisa kayu bangunan, dan triplek.
"Sampah-sampah keras ini kami cacah, lalu melalui proses pengeringan untuk mengurangi kadar air, baru kemudian dicetak menjadi pelet biomassa. Prosesnya memakan waktu dua sampai tiga hari," ujar Pak Dani ketika ditemui RRI Jakarta, Selasa 12 Mai 2026.
Salah satu fakta menarik dari inovasi ini adalah efisiensinya yang sangat tinggi. Pak Dani mengklaim bahwa pelet biomassa hasil olahannya memiliki panas yang stabil dan tahan lama.
"Kami sudah mencoba, satu kilogram pelet biomassa ini bisa digunakan untuk memasak rendang sampai matang. Padahal kita tahu masak rendang itu butuh waktu lama, sekitar tiga jam," tambahnya.
Meski saat ini penggunaannya masih terbatas di kalangan warga tertentu dan sebagai bagian dari edukasi inovasi, Pak Dani tengah mengembangkan kompor khusus agar pelet ini semakin mudah digunakan oleh masyarakat luas.
Selain pelet biomassa, Bank Sampah Cemara juga mengelola berbagai jenis limbah lainnya:
Limbah Organik Lunak: Diolah menjadi pakan ternak (unggas, kambing) dan pakan ikan melalui budidaya Maggot. Dalam sehari, mereka mampu mengolah 2 kuintal hingga 500 kg sampah organik dapur.
Limbah Anorganik: Warga yang menyetorkan sampah mendapatkan nilai ekonomi. Harga botol plastik dihargai Rp3.000/kg, minyak jelantah Rp5.000/liter, bahkan tutup botol yang dipisah dihargai Rp2.000/kg.
Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, hasil dari pengelolaan sampah ini memiliki dampak sosial yang nyata bagi warga RW 01 yang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa tersebut. Salah satunya adalah program pembayaran iuran PAUD menggunakan sampah.
"Hasil dari pemilahan sampah ini juga digunakan untuk membantu biaya pendidikan, seperti membayar SPP PAUD anak-anak warga lewat setoran sampah," jelas Dani.
Wilayah yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah liar dan memiliki masalah sosial, kini berubah menjadi kawasan asri yang produktif. Dengan adanya "Rumah Memilah" di setiap RT, kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan pun meningkat drastis.
Inisiatif dari Gang Hijau Cemara ini membuktikan bahwa dengan teknologi sederhana dan semangat gotong royong, masalah sampah di Jakarta dapat diubah menjadi kemandirian energi dan solusi ekonomi bagi masyarakat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....