"Tempe Bacem": Inovasi Warga Koja Olah Sampah Organik Jadi Pakan Berkualitas

  • 12 Mei 2026 19:58 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Masalah sampah di wilayah perkotaan seringkali menjadi beban, namun bagi warga RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, sampah justru diolah menjadi sumber protein dan energi. Melalui inisiatif yang dikenal dengan nama "Tempe Bacem" (Tempat Pembuangan Sampah Bersih, Asri, Cerdas, Edukatif, dan Mandiri) dan Bank Sampah Cemara, warga berhasil menciptakan sistem ekonomi sirkular yang mandiri.

Dani Arwanto, penggerak utama di balik inovasi ini, menjelaskan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah mengubah limbah organik (karbohidrat dan serat) menjadi protein hewani melalui budidaya maggot. Protein ini kemudian diolah menjadi pelet pakan ternak berkualitas.

"Kami mengelola sampah organik dari lingkungan sekitar, pasar, hingga sisa rumah makan. Sampah tersebut kami proses menjadi pakan untuk unggas, bebek, kambing, dan ikan. Kami bahkan mengatur kadar nutrisi dan gizi dalam pelet pakan tersebut agar hasilnya maksimal," ujar Dani kepada RRI Jakarta, Senin 11 Mei 2026.

Teknologi yang digunakan di lokasi ini tergolong mumpuni. Dengan bantuan mesin pengolah sampah, mereka mampu memproses hingga 1 ton sampah per hari. Selain mesin, budidaya maggot di tempat ini juga berkontribusi mengurai 80 hingga 100 kilogram sampah organik setiap harinya.

Saking efisiennya sistem pengolahan ini, Dani mengaku terkadang mereka justru mengalami kekurangan pasokan sampah.

"Di tempat lain orang pusing karena sampah menumpuk, di sini kami justru terkadang kekurangan bahan baku sampah organik untuk diolah," tambahnya.

Selain pakan ternak, Bank Sampah Cemara juga menerapkan metode "Glossor" (Gerakan Lubang Sampah Organik). Metode ini bertujuan untuk mengolah tanah secara alami dari dalam dengan memberikan nutrisi organik langsung ke dalam lubang-lubang di kebun, sehingga memicu pertumbuhan bakteri pengurai yang menyuburkan lahan pertanian kota (urban farming).

Inovasi lain yang tak kalah menarik adalah pembuatan Pelet Biomassa. Pelet ini dibuat dari limbah organik keras seperti ranting pohon, kayu bekas bangunan, dan triplek yang biasanya ditolak oleh Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Produk ini dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti gas elpiji untuk kebutuhan memasak.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Saat ini, program tersebut mendapatkan dukungan CSR dari Pertamina Lubricants, serta bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan institusi pendidikan.

Meski teknologi sudah tersedia, Dani menekankan bahwa tantangan terbesar tetap berada pada faktor Sumber Daya Manusia (SDM).

"Menjaga kepedulian dan konsistensi warga itu tidak mudah. Kadang semangatnya naik turun, pagi rajin sore sudah malas. Itulah peran kami sebagai pelopor untuk terus memupuk semangat kebersamaan ini demi lingkungan yang lebih baik," tutup Dani.

Melalui kemandirian pengolahan sampah ini, warga Koja membuktikan bahwa limbah yang dianggap kotor dan tidak berguna bisa berubah menjadi berkah ekonomi dan solusi bagi ketahanan pangan serta energi di tingkat komunitas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....