Teori VECI Bantu Ukur Daya Saing Badan Usaha Milik Desa
- 06 Mei 2026 16:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) pada tahun 2026, per Maret Indonesia memiliki 72.807 Badan Usaha Milik (BUM Desa) yang terdiri dari 66.332 BUM Desa dan 6.475 BUM Desa Bersama. Dari total tersebut, baru 45.245 BUM Desa yang sudah berbadan hukum.
Namun, dari pemeringkatan yang dilakukan oleh Kemendesa PDT di tahun 2024 (diikuti oleh 31.279 BUM Desa), hanya 12.690 BUM Desa yang masuk kategori berkembang dan 1.923 BUM Desa masuk ke dalam kategori maju. Selebihnya masih dalam kategori perintis dan pemula.
Model bisnis yang tidak berjalan baik menjadi salah satu faktor kesenjangan yang terjadi pada BUM Desa saat ini. Hal ini dikemukakan oleh Jimmy Gani, CEO Bakrie Center Foundation dalam sidang terbuka disertasi di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2026.
Dalam sidang terbuka disertasi yang berjudul Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa) Melalui Transformasi Model Bisnis, Jimmy mengungkap hasil penelitiannya terkait kelemahan BUM Desa dalam hal daya saing yang meliputi peningkatan kemampuan manajerial, pemasaran, permodalan, hingga kemitraan. Dari penelitian ini, Jimmy merumuskan teori pengukuran daya saing BUM Desa yang dinamakan Village Enterprises Competitiveness Index (VECI).
Teori Village Enterprises Competitiveness Index atau VECI diharapkan dapat mengukur dan mengevaluasi daya saing BUM Desa. Dari 164 BUM Desa yang ia teliti, lebih dari 40% BUM Desa masuk kategori BUM Desa berdaya saing cukup, 33% sebagai kategori BUM Desa berdaya saing kurang, dan 12,8% tidak memiliki daya saing. Sedangkan hanya 9,8% dan 4,3% BUM Desa yang dapat dikategorikan berdaya saing bagus dan sangat bagus.
“Memang saat ini sudah ada pemeringkatan terhadap BUM Desa-BUM Desa oleh Kemendesa PDT. Jadi dari perintis, pemula, berkembang, juga maju. Tapi saya melihat indeks-indeksnya itu belum menggambarkan bagaimana daya saing dari BUM Desa itu sendiri,” ujar Jimmy dalam keterangan resminya, Rabu, 6 Maret 2026.

Menurut Jimmy, faktor yang mempengaruhi BUM Desa berdaya saing dari hasil analisis secara keseluruhan, meliputi ancaman produk pengganti, kelayakan produk, kompetisi yang semakin mengglobal, dan peluang. Dari teori VECI ini, Jimmy menciptakan langkah-langkah transformasi BUM Desa berdaya saing dengan 4 tahapan.
Pertama adalah Reframe yang mengubah cara pandang dan strategi BUM Desa dengan menitikberatkan pada perbaikan kelayakan produk, peluang, dan memperhatikan ancaman produk pengganti. Kedua, Restructure yang melakukan restrukturisasi alokasi sumber daya dengan menciptakan sumber-sumber pendapatan baru.
“Ketiga Revitalize dimana BUM Desa dapat menghidupkan kembali produk dan layanan melalui segmentasi pelanggan atau memperbaharui budaya kerja menjadi agile dan terakhir Renew yang membangun kapabilitas baru untuk masa depan yang berfokus pada ancaman produk pengganti, kelayakan produk, kompetisi yang semakin mengglobal, serta peluang,” katanya.
Jimmy menyampaikan, dengan adanya konektivitas (teknologi dan internet), jarak dan sekat-sekat antar wilayah itu bisa diterobos. Sebenarnya ini kesempatan karena desa yang sedang mencoba membangun perekonomiannya tidak hanya mengandalkan sumber daya dari desa itu sendiri.
“Mereka bisa berkolaborasi antar desa bahkan antar wilayah. Perlu diberikan suatu bimbingan supaya BUM Desa bisa mengembangkan potensi di daerah dan bisa berkolaborasi dengan yang stakeholder lain,” ucapnya.
Teori Village Enterprises Competitiveness Index (VECI) akan coba diterapkan melalui Collaborative Leadership Program (Bersama Membangun Desa), program yang diinisiasi oleh Bakrie Center Foundation. Program ini akan berfokus pada pengembangan kepemimpinan untuk mendukung penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) sebagai entitas bisnis yang lebih berdaya saing.
Program ini didesain untuk mengintegrasikan pembekalan kepemimpinan, analisis berbasis data, dan pendampingan lapangan. Collaborative Leadership Program dapat diikuti oleh fresh graduate maupun pemuda lokal untuk menjadi fasilitator, yang tidak hanya mempelajari konsep tetapi juga terlibat dalam proses kerja yang sistematis.
Para fresh graduate dan pemuda lokal terpilih akan menjadi fasilitator (project officer) untuk melakukan asesmen, mengidentifikasi tantangan dan potensi, serta berkontribusi dalam penguatan model bisnis BUM Desa secara kolaboratif bersama dengan pengelola BUM Desa dan pemangku kepentingan lainnya.
“Dengan dijalankannya Collaborative Leadership Program, saya harap semakin banyak BUM Desa yang bisa kita survei untuk melihat bagaimana kondisinya saat ini, sehingga intervensi yang nanti akan dilakukan bisa benar-benar efektif,” ujar Jimmy.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....