Menilik Pembuat Tahu Tradisional Tanpa Bahan Kimia
- 18 Apr 2026 15:51 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Di balik sepotong tahu yang tersaji di meja makan, ada kerja keras dan ketelatenan para perajin yang rela berjibaku dengan panas dan uap air setiap harinya. Salah satunya adalah Pak Saidin (50), seorang perajin tahu senior yang telah menghabiskan sebagian besar usianya menggeluti industri rumahan ini.
Meski baru tiga tahun bekerja di pabrik tahu kawasan Koja, Jakarta Utara tersebut, Pak Saidin mengaku sudah akrab dengan pembuatan tahu sejak awal masa kerjanya. Pengalamannya yang matang menjadikannya salah satu pilar produksi di pabrik tersebut.
Setiap harinya, Pak Saidin mampu mengolah hingga lima karung kedelai. Sistem pengupahan yang diterimanya berdasarkan jumlah karung yang diolah.
"Rata-rata sehari bikin 5 karung. Kalau bayarannya, tiap 2 karung itu Rp130.000," ujar Pak Saidin kepada RRI Jakarta, Jum'at 17 April 2026.
Dari dua karung kedelai tersebut, ia mampu menghasilkan sekitar 70 papan tahu berukuran 40x60 cm. Untuk mengolah satu karung kedelai saja, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam, mulai dari proses awal hingga menjadi tahu siap potong.
Salah satu hal menarik yang diungkapkan Pak Saidin adalah penggunaan bahan-bahan alami dalam proses produksinya. Ia menjamin tahu yang dibuatnya tidak menggunakan bahan kimia tambahan.
Prosesnya dimulai dengan merendam kedelai selama setengah jam hingga mekar, lalu digiling dan direbus menggunakan uap air panas. Untuk proses penggumpalan, Pak Saidin menggunakan "air kemarin" atau sisa sari kedelai yang telah mengasam secara alami sebagai koagulan. "Enggak pakai obat (kimia), pakai air yang kemarin saja," tegasnya.
Di usianya yang sudah menginjak setengah abad, Pak Saidin mengakui bahwa pekerjaan ini menuntut stamina yang kuat. Selain harus menahan hawa panas dari proses perebusan, ada risiko kesehatan kulit yang sering dialami oleh para perajin tahu.
"Suka duka ya capek saja, harus kerja keras dan tahan panas. Terus kadang tangan sama kaki gatal-gatal karena sering kena air kedelai itu," ungkapnya. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berproduksi dan memastikan pasokan tahu untuk warga tetap terjaga.
Kisah Pak Saidin menjadi potret nyata perjuangan pekerja sektor informal yang tetap setia menjaga kualitas produk tradisional dengan cara-cara alami, meski harus menghadapi tantangan fisik dan ekonomi yang tidak ringan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....