Pedagang Daging Sapi Jabodetabek Mogok Jualan, Ada Apa?
- 22 Jan 2026 13:51 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Pedagang daging sapi dan rumah pemotongan hewan atau RPH di Jabodetabek menghentikan aktivitas jual beli selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu, 22–24 Januari 2026. Aksi mogok ini bukan sekadar protes spontan, melainkan puncak kekecewaan atas harga sapi hidup yang terus melonjak dan tak kunjung distabilkan pemerintah.
Klaim Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia atau JAPPDI, aksi mogok jualan dilakukan 90 persen pedagang daging di seluruh pasar tradisional dan RPH se-Jabodetabek. Pedagang menilai lonjakan harga sapi hidup telah membuat harga karkas di RPH ikut naik, sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Suasana los daging sapi di Pasar Cipete, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Januari 2026. Lapak pedagang tampak kosong seiring aksi mogok jualan pedagang daging sapi se-Jabodetabek (Foto: Tangkapan layar video dari JAPPDI)
Baca juga:
- Harga Daging di Semarang Stabil, Tidak Ada Aksi Mogok
- Harga Daging Sapi Meroket, DPR Minta Pemerintah Intervensi
“Harga sapi hidup terus naik, sementara kami di hilir hanya berhadapan langsung dengan konsumen. Tanpa intervensi serius dari pemerintah, gejolak harga ini akan terus berulang.” — Asnawi, Ketua Umum JAPPDI
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia atau DPD APDI DKI Jakarta, Wahyu Purnama, mengatakan harga sapi hidup yang tinggi membuat pedagang berada di posisi terjepit. “Harga karkas naik, tapi konsumen menahan belanja,” ujar Wahyu.
Dalam surat terbuka yang diterima RRI Jakarta, Wahyu menegaskan mogok dagang adalah bentuk keprihatinan kolektif. “Seluruh anggota APDI bandar sapi potong dan pedagang daging melakukan aksi berhenti berjualan sebagai bentuk protes,” kata dia.
Surat itu mengungkap kekecewaan pedagang atas hasil rapat dengan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 5 Januari 2026. Janji stabilisasi harga sapi hidup selama dua pekan disebut tidak terealisasi, sementara harga dari feedloter terus menanjak.

Ketua Umum JAPPDI Asnawi (kiri) menjelaskan penyebab lonjakan harga sapi hidup saat wawancara dengan penyiar RRI Farid Kurniawan (kanan) di Pro1 RRI Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026. (Foto: tangkapan layar wawancara zoom meeting)
Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), Asnawi, menjelaskan lonjakan harga sudah berlangsung sejak November 2025. “Saat itu harga sapi hidup masih Rp47 ribu per kilogram, sekarang sudah di kisaran Rp55.500,” ujar Asnawi kepada RRI Pro1 Jakarta pada Kamis, 22 Januari 2026.
Menurut Asnawi, jika ditambah ongkos transportasi dan perawatan, harga pokok produksi mencapai Rp56.500 per kilogram. “Kalau dikonversi ke karkas di RPH, harganya sudah Rp109 ribu sampai Rp111 ribu per kilogram,” ucapnya.
Ia menilai persoalan ini berakar dari sektor hulu yang rapuh. Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 33 persen kebutuhan daging nasional, sementara sisanya bergantung pada impor sapi bakalan dari Australia dan negara lain.
Asnawi juga menyinggung faktor global dan nilai tukar rupiah. “Kurs dolar mendekati Rp17 ribu, ini ikut mendorong harga sapi impor,” kata dia, seraya menilai kebijakan impor yang ketat memperparah fluktuasi harga.

Foto ilustrasi Sariyono, pedagang bakso di Jalan Hayam Wuruk, Yogyakarta, melayani pembeli saat momen libur Lebaran, Jumat, 12 April 2024. Ia mengaku pendapatannya meningkat pesat seiring tingginya permintaan masyarakat selama masa liburan. (Foto: RRI/Aji)
Dari sisi hilir, dampak kenaikan harga juga dirasakan pedagang bakso. Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso atau APMISO, Lasiman, menyebut sekitar 70 persen daging sapi di pasar diserap pedagang bakso. “Kalau harga daging naik, bakso mau tidak mau ikut terdampak,” ujar Lasiman.
Lasiman mengatakan harga daging segar kini bertahan di kisaran Rp130 ribu hingga Rp135 ribu per kilogram. Sementara daging beku impor yang seharusnya lebih murah justru dijual mendekati Rp100 ribu per kilogram.
Ia menilai mogok jualan bukan solusi jangka panjang. “Yang dibutuhkan adalah pemerintah hadir di tengah, mencari solusi dari hulu sampai hilir,” ucap Lasiman, seraya mengingatkan ancaman lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....