Menjaga Ingatan Sejarah dan Warisan Budaya Batak

  • 05 Okt 2026 11:52 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menjaga Ingatan Sejarah dan Warisan Budaya Batak

RRI.CO.ID.Jakarta - Menjaga ingatan sejarah dan warisan budaya Batak menjadi bagian penting dalam mempertahankan jati diri serta memperkuat identitas generasi penerus di tengah perubahan zaman. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam acara Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 28 September 2026. Hadir sebagai narasumber melalui sambungan telepon, Prof. Dr. Chontina Siahaan, SH, MSi., Sekretaris Dewan Penasihat Nasional BATAK CENTER, yang membagikan pandangannya mengenai pentingnya masyarakat Batak memahami sejarah, nilai-nilai budaya, serta warisan leluhur. Dialog tersebut dipandu oleh Host Jojo Aditya, dengan mengajak pendengar melihat budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian penting dari kehidupan masa kini.

Menurut Prof. Dr. Chontina Siahaan, ingatan sejarah memiliki peran besar dalam membentuk kesadaran sebuah masyarakat terhadap asal-usul dan identitasnya. Bagi masyarakat Batak, sejarah tidak hanya tersimpan dalam catatan tertulis, tetapi juga diwariskan melalui tutur, adat istiadat, marga, bahasa, kesenian, serta berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Pengetahuan tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan para leluhur. Karena itu, menjaga ingatan sejarah berarti memastikan agar nilai-nilai yang terkandung di dalam perjalanan panjang masyarakat Batak tidak hilang atau terputus akibat perubahan zaman.

Ia juga menekankan bahwa warisan budaya Batak memiliki kekayaan nilai yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sosial. Berbagai tradisi dan sistem kekerabatan mengajarkan pentingnya hubungan antarmanusia, penghormatan terhadap orang tua dan leluhur, serta tanggung jawab terhadap keluarga dan komunitas. Nilai-nilai tersebut perlu dipahami secara kontekstual agar tetap relevan dengan kehidupan generasi muda. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan seluruh bentuk lama tanpa perubahan, tetapi menjaga nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar dapat diterapkan sesuai perkembangan masyarakat.

Menurutnya, tantangan pelestarian budaya semakin besar ketika generasi muda lebih banyak berhadapan dengan arus informasi dan budaya global. Kondisi tersebut menuntut keluarga, komunitas adat, lembaga pendidikan, dan organisasi kebudayaan untuk mengambil peran bersama dalam memperkenalkan sejarah dan warisan budaya Batak. Pemanfaatan teknologi dan media digital juga dapat menjadi sarana strategis untuk mendokumentasikan cerita sejarah, kesenian, bahasa, adat, serta berbagai peninggalan budaya agar dapat diakses oleh generasi muda. Dengan cara tersebut, budaya Batak tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat hadir dan berkembang di ruang publik modern.

Melalui perbincangan dalam Apresiasi Budaya Batak Pro 4 RRI Jakarta, Prof. Dr. Chontina Siahaan mengingatkan bahwa kehilangan ingatan sejarah dapat membuat sebuah generasi semakin jauh dari akar budayanya. Karena itu, menjaga warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama generasi muda sebagai penerus. Sejarah dan budaya Batak harus terus dipelajari, diceritakan, didokumentasikan, dan diwariskan agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari dialog yang dipandu Jojo Aditya tersebut, tersirat pesan bahwa mengenal sejarah bukan sekadar menengok masa lalu, melainkan menjadi cara untuk memahami siapa diri kita dan menentukan bagaimana warisan leluhur dapat terus memberi makna bagi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....