Anak Muda Kenalkan Budaya Tionghoa-Indonesia lewat Kompetisi Bahasa Mandarin
- 15 Sep 2026 19:00 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kompetisi pidato dan presentasi menggunakan bahasa Mandarin di Indonesia, menjadi sarana bagi generasi muda untuk mempelajari, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Tionghoa-Indonesia
- Berbagai unsur budaya yang diperkenalkan peserta mencakup makanan tradisional, bangunan bersejarah, perayaan, adat, hingga aspek kepercayaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kompetisi pidato dan presentasi menggunakan bahasa Mandarin di Indonesia, menjadi sarana bagi generasi muda untuk mempelajari, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Tionghoa-Indonesia. Berbagai unsur budaya yang diperkenalkan peserta mencakup makanan tradisional, bangunan bersejarah, perayaan, adat, hingga aspek kepercayaan.
Kegiatan yang berlangsung sejak Mei itu, diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 197 video dikirimkan untuk mengikuti tahap awal.
Setelah melalui proses seleksi, 34 pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah, berhasil melanjutkan kompetisi ke babak final secara langsung. Sementara itu, 30 mahasiswa dari program studi yang berkaitan dengan bahasa Mandarin, mengikuti tahap akhir melalui sistem daring.
Pada kategori pelajar sekolah dasar dan menengah, peserta menyampaikan pidato dalam bahasa Mandarin, dengan mengangkat tema "Budaya Tionghoa di Mata Saya". Adapun kategori mahasiswa mengikuti kompetisi melalui presentasi video, yang dilanjutkan dengan mekanisme pemungutan suara secara daring.
Materi yang dibawakan peserta umumnya bersumber dari pengalaman, kehidupan sehari-hari, serta hasil pengamatan mereka terhadap lingkungan sekitar. Melalui pendekatan itu, mereka memperkenalkan berbagai bentuk budaya Tionghoa-Indonesia, yang berkembang di daerah masing-masing, termasuk kuliner, arsitektur, festival, tradisi, dan kepercayaan.
Dikutip dari Antara, Senin 14 September 2026, Salah satu peserta, Irovi dari Selat Panjang, Provinsi Riau, menilai kegiatan itu dapat membantu generasi muda Tionghoa-Indonesia, mengenal akar budayanya. Sekaligus menjaga keberlangsungannya.
Dalam presentasinya, ia mengangkat tradisi perayaan Tahun Baru Imlek di daerah asalnya, yaitu arak-arakan dewa. "Budaya dapat terus hidup dalam kehidupan kita sehari-hari," ujarnya.
Sementara itu, Zheng Xujun, siswa kelas 11 Xin Zhong School Surabaya, mengikuti kompetisi dengan harapan budaya Tionghoa-Indonesia, dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas. Saat menyiapkan materi, ia memilih membahas sekolah Tionghoa, yang dinilainya memiliki peran dalam memperkenalkan serta mengajarkan tradisi, dan kebudayaan Tionghoa di Indonesia.
Peserta lainnya, Wiratama, pada tahap penyisihan memperkenalkan Kelenteng Konghucu di Surabaya. Menurutnya, keberadaan kelenteng itu menjadi salah satu bagian, yang mencerminkan karakter budaya Tionghoa di wilayah itu.
Memasuki babak final, Wiratama memilih topik kuliner dengan membahas kue mangkok dan wajik. Kedua makanan tradisional itu dikenal digunakan masyarakat Tionghoa-Indonesia, sebagai bagian dari persembahan dalam ritual. Wajik yang diperkenalkannya, dibuat menggunakan bahan utama beras ketan dan gula aren.
Menurut Wiratama, persiapan mengikuti kompetisi membuat dirinya semakin memahami budaya, yang diwariskan oleh para leluhurnya. Pengalaman itu juga membuatnya semakin menghargai, dan mensyukuri keberadaan warisan budaya itu.
Ashley Renata, yang juga merupakan siswa kelas 11 Xin Zhong School, menyatakan kompetisi itu menjadi pengalaman untuk memperluas pengetahuannya, mengenai budaya Tionghoa-Indonesia. Selain mempelajari kebudayaan, ia juga memperoleh kesempatan bertemu dengan teman-teman baru, sekaligus mengasah kemampuan berbahasa Mandarin.
Pada tahap penyisihan, beberapa peserta turut memilih tema, yang berkaitan dengan perjalanan Zheng He, keberadaan masjid yang menggunakan nama Zheng He. Serta sejarah hubungan dan pertukaran budaya antara China dan Indonesia.
Kompetisi itu tidak hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan berbahasa Mandarin. Tetapi juga memberikan ruang bagi generasi muda, untuk mengenali kembali budaya yang berkembang, dan diwariskan di tengah masyarakat Tionghoa-Indonesia. (Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....