Akulturasi Budaya Cina Melayu Perkuat Keharmonisan Nusantara

  • 13 Sep 2026 01:39 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu menjadi bukti nyata betapa indahnya keragaman yang hidup harmonis di bumi Nusantara. Hal ini dibahas tuntas dalam dialog interaktif "Suara Budaya Nusantara" yang disiarkan oleh RRI Pro 4 Palembang bersama RRI Jakarta pada Kamis (10/9/2026). Acara yang dipandu oleh host Lidya Wulansari dan Nova Calysta ini mengajak pendengar menelusuri jejak perpaduan tradisi di berbagai daerah. Pertemuan budaya ini bukan sekadar penyesuaian fisik, melainkan simbol indahnya rasa saling menghargai antaretnis.

Dalam siaran tersebut, sejarawan Sumatra Selatan sekaligus Dosen Universitas PGRI Palembang, Dr. M. Idris, S.Pd., M.Pd., hadir sebagai narasumber utama. Ia menjelaskan bahwa keterbukaan antarkelompok menjadi kunci utama terciptanya keharmonisan ini. "Akulturasi Tionghoa dengan Melayu itu merupakan sebuah fenomena yang unik dan menggambarkan bagaimana kemampuan menyesuaikan diri masing-masing kelompok," ujar Dr. M. Idris. Menurutnya, proses saling menyelaraskan kebiasaan tanpa menghilangkan ciri khas asli telah melahirkan kebudayaan baru yang kaya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa rasa persaudaraan yang tulus membuat proses pembauran budaya ini berjalan sangat damai tanpa gejolak. "Kenapa semua ini bisa berjalan dengan baik menjadi sebuah fenomena yang menggambarkan sinergisitas budaya yang tinggi, karena adanya sikap mau menerima dan bersaudara," jelas Dr. M. Idris. Sikap saling merangkul tersebut terbukti mampu meruntuhkan dinding perbedaan etnis di tengah masyarakat. Rasa saling percaya yang terbangun sejak lama ini akhirnya menciptakan ikatan sosial yang sangat kokoh.

Jejak perpaduan budaya ini sangat gampang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya pada kelezatan kuliner mi celor khas Palembang. Selain dari arsitektur bangunan, perpaduan ini juga terlihat jelas dalam bahasa sehari-hari yang sering kita gunakan. Kata-kata seperti pangkeng, cangkul, hingga istilah panggilan keluarga telah terserap alami ke dalam dialek Melayu maupun Betawi. Aktivitas perdagangan di masa lalu mendorong masyarakat lokal dan pendatang saling meminjam bahasa agar komunikasi semakin akrab.

Warisan akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu kini menjadi aset berharga untuk menjaga persatuan serta ketahanan budaya nasional. Nilai-nilai toleransi dari sejarah pembauran ini menjadi pelajaran penting bagi generasi muda di tengah gempuran zaman. Tradisi perpaduan ini juga berfungsi sebagai benteng kokoh untuk menangkal dampak negatif arus globalisasi. Melalui pemahaman sejarah yang mendalam, nilai-nilai keharmonisan ini diharapkan terus terjaga demi masa depan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....