Warisan Kilau Emas Minang yang Menolak Punah Ditelan Zaman
- 23 Agt 2026 21:15 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Kilau benang emas Sulam Ameh khas Minangkabau terbukti tak pernah pudar meski digempur gelombang tren fesyen modern. Kerajinan tangan yang sarat nilai tradisi ini diperbincangkan secara hangat dalam program Suara Budaya Nusantara di RRI Pro 4. Di balik keindahan yang mewah itu, ada tangan-tangan terampil perajin lokal yang tak kenal lelah menjaga warisan leluhur Sumatera Barat agar tetap hidup dan dikenal luas oleh masyarakat Nusantara.
Ibu Darmawati, pemilik usaha Sulam Ameh Munggu Sakato, menceritakan perjuangan panjangnya menjaga tradisi ini sejak dekade 1980-an. Ia menegaskan bahwa setiap lembar kain dibuat secara manual untuk menjaga mutu tingginya. "Pengerjaannya butuh waktu lebih dari sebulan karena kain harus dilukis dulu, direntang pakai pamedangan kayu, lalu disulam dengan benang emas siang dan malam," ujar Ibu Darmawati saat hadir sebagai narasumber di studio.
Kesabaran dan tingkat kerumitan yang tinggi dalam proses pembuatan melahirkan karya seni yang bernilai sangat istimewa. Tidak heran jika harga yang ditawarkan sebanding dengan mutu busana tradisional tersebut. "Harganya berkisar antara dua hingga tiga juta rupiah untuk satu selendang lengkap, sebanding dengan kerumitan dan waktu pembuatannya yang cukup lama," tambahnya merinci nilai dari setiap hasil sulaman emasnya.
Dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM terus mengalir untuk memperkuat bisnis rumahan para perajin. Mulai dari pelatihan, kemudahan izin usaha, hingga fasilitas pameran bazar rutin diberikan. Hasilnya manis, busana ini kini diminati kalangan ibu-ibu muda dan sosialita yang memadukannya dengan gamis modern untuk acara adat atau hajatan.
Namun, perjalanan melestarikan warisan budaya ini bukan tanpa tantangan. Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah minimnya minat generasi muda untuk meneruskan keahlian menyulam yang butuh ketelitian tinggi. Sebagian besar anak muda lebih memilih bekerja di luar rumah ketimbang duduk berjam-jam menganyam benang emas.
Beruntung, Ibu Darmawati masih didampingi anggota keluarga dan tetangga terdekat yang setia membantu proses produksi sehari-hari. Berkat keteguhan mereka, keindahan Sulam Ameh tetap bertahan tangguh dan membuktikan bahwa kearifan lokal Minangkabau selalu memiliki tempat terindah di hati pencintanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....