Dari Karang Taruna, Sanggar Silang Maung Lestarikan Palang Pintu

  • 23 Agt 2026 20:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta — Sanggar Silang Maung di Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, terus mengembangkan palang pintu sebagai bagian dari upaya mempertahankan kesenian tradisional di lingkungan masyarakat. Sanggar tersebut terbentuk pada tahun 2017 dan berawal dari kegiatan kesenian Karang Taruna.

Septheo, salah satu praktisi palang pintu di Sanggar Silang Maung, mengatakan bahwa pembentukan sanggar bermula ketika anggota Karang Taruna ingin mencari kesenian yang dapat dikembangkan di lingkungan tempat tinggal. Mereka kemudian memilih palang pintu dan mulai mempelajari silat sebagai bagian dari pertunjukan.

“Kita pengen ada kesenian palang pintu. Awalnya sih belajar silat dulu,” ujarnya, pada Minggu 23 Agustus 2026.

Setelah mulai mempelajari silat, kelompok tersebut kemudian tampil dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekitar. Mereka mengisi sejumlah panggung, termasuk kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan yang digelar di tingkat RT.

“Awalnya itu kita main dari panggung ke panggung. Demo silat. Kalau di sini kan masih aktif nih. Kayak panggung 17-an itu masing-masing RT pada bikin. Kita demo,” kata Septheo.

Penampilan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu, anak-anak di lingkungan sekitar juga mulai mengikuti latihan silat. Septheo mengatakan, hampir satu angkatan sekolah dasar pernah mengikuti latihan bersama mereka.

Antusiasme masyarakat kemudian membuat kelompok tersebut mulai mendapat kesempatan tampil dalam pertunjukan palang pintu. Salah satunya saat mereka mengawal peresmian sebuah sekolah di Cilangkap yang dihadiri Wali Kota Depok saat itu, Mohammad Idris.

Menurutnya, nama Sanggar Silang Maung diambil dari nama aliran silat yang mereka gunakan, yakni silat tradisional yang memiliki unsur budaya Betawi dan Sunda. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan budaya di wilayah Depok yang memiliki pengaruh dari kedua kebudayaan tersebut.

“Mainan tuh sebenarnya Betawinya ada, Sundanya juga ada. Gerakan silat Betawi itu kan banyak ya silat. Cuma karena kita ada di Depok, Betawi kampung. Silat tradisinya masih ada Sundanya juga,” kata Septheo.

Dalam pertunjukannya, Sanggar Silang Maung juga mengenalkan palang pintu rebut dandang. Septheo menjelaskan, tradisi tersebut memiliki sejumlah perlengkapan yang menjadi bagian dari pertunjukan, salah satunya dandang berisi beras. Dandang dalam tradisi rebut dandang menggambarkan kehidupan rumah tangga, sedangkan beras melambangkan kemampuan seorang laki-laki dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Dandang itu melambangkan suatu hubungan dalam rumah tangga. Di dalamnya ada berasnya. Nah, beras itu maksudnya seorang laki-laki harus bisa mampu buat nafkahin anak bininya nanti,” katanya.

Selain dandang dan beras, terdapat kain hitam serta cincin yang memiliki makna tersendiri. Kain hitam digunakan untuk menutup dandang dan dimaknai sebagai simbol agar persoalan dalam rumah tangga dapat diselesaikan oleh pasangan tanpa diketahui keluarga besar. Sementara cincin menjadi simbol ikatan antara kedua keluarga.

Melalui berbagai pertunjukan yang digelar, Septheo berharap tradisi palang pintu dapat terus dilestarikan. Ia menambahkan bahwa palang pintu merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda agar keberadaannya tetap terjaga.

(Syahrani Alyssia Tunggadewi - Universitas Negeri Jakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....