Tenun Nusantara, Simbol Persatuan Bangsa di Layar Zaman
- 21 Agt 2026 14:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Tradisi menenun merupakan cara penting masyarakat Indonesia dalam merawat identitas dan nilai budaya bangsa. Dikutip dari RRI Jakarta dan RRI Makassar, hal tersebut dibahas dalam program berjaringan "Suara Budaya Nusantara" pada Selasa (18/8). Diskusi bertema pelestarian tenun ini disiarkan secara langsung untuk mengajak masyarakat menjaga warisan lokal di era digital. Acara ini menghadirkan akademisi kebudayaan untuk menjelaskan peran tenun dalam memperkuat rasa persatuan nasional.
"Indonesia ini ibaratnya kain tenun, terdiri dari berbagai suku, berbagai corak, warna, bahasa, dan budaya," kata Akademisi Budaya sekaligus Dosen Sastra Daerah FIB Universitas Hasanuddin Makassar, Dr. Sumarlin Rengko. "Kita tidak bisa kuat ketika kita masih tercerai-berai, kita kuat ketika kita saling menyatu ibarat selembar benang," ujarnya menegaskan pentingnya kebersamaan. Keberagaman yang ada dianggap sebagai modal utama masyarakat untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif. Setiap perbedaan warna dan motif justru membuat kain serta bangsa Indonesia menjadi lebih utuh.
"Proses panjang dan sentuhan manusia justru menjadi bagian penting dari keindahan sebuah karya budaya," tutur Sumarlin saat menjelaskan keunggulan tenun manual. Ia menambahkan bahwa sarung sutra Lipa Sabe dari Bugis-Makassar memiliki nilai sosial yang sangat erat dengan ritual adat masyarakat. "Sejumlah motif masih dipertahankan meski proses produksinya mulai menghadapi perubahan karena perkembangan teknologi," ucapnya terkait tantangan zaman. Penenun tradisional di Sulawesi Selatan kini menghadapi persaingan dari mesin pabrik yang bekerja lebih cepat.
Penggunaan mesin memicu berkurangnya jumlah penenun tradisional yang menggunakan tangan di berbagai daerah. Padahal, pembuatan kain tenun manual membutuhkan waktu lama serta ketelitian tinggi sehingga bernilai seni tinggi. Oleh karena itu, Sumarlin menilai upaya pelestarian tenun harus melibatkan generasi muda secara aktif. Pelestarian ini bisa dilakukan melalui pendidikan, industri kreatif, fesyen, dan berbagai kegiatan kebudayaan daerah.
Daerah Sulawesi Selatan sendiri masih memiliki beragam tradisi kain khas seperti Lipa Sabe, kain Kajang, dan kain Toraja. Keberadaan kain-kain ini membuktikan bahwa tradisi lokal tetap bisa bertahan dan berkembang mengikuti zaman. Melalui momentum kemerdekaan, kegiatan menenun dimaknai kembali sebagai simbol persatuan seluruh rakyat Indonesia. Menjaga tradisi tenun bukan hanya merawat fisik kainnya, tetapi juga menjaga cerita dan jati diri bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....