RRI Mataram dan RRI Jakarta Bahas Tradisi Rebo Bontong

  • 19 Agt 2026 09:13 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - RRI Mataram dan RRI Jakarta mengangkat tradisi Rebo Bontong dan Mandiq Safar dalam siaran bersama program Suara Budaya Nusantara. Siaran tersebut membahas tradisi masyarakat Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan nilai budaya, keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat kepada pendengar di berbagai daerah.

Pembahasan dalam siaran Suara Budaya Nusantara menghadirkan Kiai Linggar atau Pemangku Adat Kemaliq Linggar, Syahirman HK, sebagai narasumber. Dalam siaran itu, Kiyai Linggar menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan ekspresi rasa syukur masyarakat atas kearifan para leluhur.

“Kita merasa bersyukur sebenarnya sebagai bentuk syukuran kita terhadap leluhur-leluhur kita yang telah meninggalkan adat kebiasaan yang baik,” kata Syahirman pada Selasa, 11 Agustus 2026. Menurutnya, meski sejarah awal kemunculannya sulit dilacak secara pasti, masyarakat tetap konsisten melestaikannya sebagai identitas daerah.

Syahirman menambahkan, Rebo Bontong juga sarat akan pesan spiritual untuk memohon perlindungan dari berbagai marabahaya. “Di samping itu ada agamanya, di situ ada budayanya, dan kemudian silaturahimnya di sana,” ucapnya menekankan keharmonisan nilai di dalamnya. Sebelum memulai prosesi, warga berkumpul untuk menggelar zikir dan doa bersama di sekitar mata air bersejarah dengan memisahkan area mandi antara laki-laki dan perempuan.

Kehangatan acara kian terasa dengan hadirnya tradisi dulang penamat yang menyajikan aneka hasil bumi lokal sebagai simbol kemakmuran. Warga menyiapkan sajian tersebut secara sukarela sesuai kemampuan tanpa adanya paksaan demi memupuk semangat gotong royong. Kehadiran hidangan bersama ini menjadi sarana perekat sosial yang kian memperkuat tali persaudaraan antarwarga.

Puncak perhelatan dijadwalkan berlangsung sore hari dengan berpatokan pada penanda alam tradisional rarak kembang waru. Masyarakat menyempatkan diri mendahulukan ibadah sebelum melangsungkan puncak rangkaian prosesi adat. Melalui Rebo Bontong dan Mandiq Safar, warga Lingsar membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan sebagai pilar jati diri bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....