Menelusuri Kisah Warung Buncit Tempo Dahulu
- 18 Agt 2026 16:25 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu menyimpan banyak cerita yang masih melekat dalam ingatan warganya. Salah satunya ialah Bang Haji Hendi, pria keturunan Betawi yang lahir dan besar di Jakarta. Ia masih mengingat kehidupan di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada era tahun 1960-an.
Bang Haji Hendi tinggal di sekitar Jalan Warung Buncit yang kini berganti nama menjadi Jalan Hj. Tutty Alawiyah. Bang Haji Hendi menjelaskan bahwa jalanan itu mulanya dikenal dengan nama Warung Buncit, karena adanya warung milik pria keturunan Tionghoa yang bernama Tan Boen Tjit. Meski ada pula orang yang berpendapat bahwa Jalan Warung Buncit berasal dari pemilik warung berperut buncit, Ia membantah anggapan tersebut dengan alasan orang Betawi tidak terbiasa menggunakan kata buncit untuk menyebut perut besar.
“Orang Betawi gak terbiasa pakai kata buncit. Orang Betawi kenalnya gendut,” ujar Bang Haji Hendi, pada 18 Agustus 2026.
Ia kemudian menceritakan kondisi Jalan Buncit Raya pada masa kecilnya. Saat itu, jalan tersebut masih sepi dan belum dipadati kendaraan seperti saat ini. Rumah-rumah warga juga dikelilingi pepohonan buah, seperti belimbing dan rambutan. Ketika musim panen tiba, buah-buahan tersebut dijual untuk menambah penghasilan keluarga.
Bang Haji Hendi menambahkan, kehidupan masyarakat Betawi kala itu juga banyak ditopang oleh usaha rumahan. Ia mengaku bahwa keluarganya juga memiliki beberapa usaha yang dijalankan secara mandiri.
“Orang Betawi di daerah saya itu macam-macam. Daerah saya dari zaman Belanda itu, kakek saya punya banyak usaha. Potong sapi, bikin tahu, ada juga sapi perah buat dijual susunya,” katanya.
Selain usaha keluarga, kondisi rumah masyarakat Betawi juga berbeda dengan rumah-rumah di Jakarta saat ini. Bang Haji Hendi mengatakan rumah pada masa itu berdiri di atas lahan yang luas, bahkan dapat mencapai ribuan meter persegi.
Fasilitas kamar mandi dan jamban pada masa itu biasanya berada terpisah dari bangunan utama. Jaraknya dapat mencapai 50-100 meter. Meski terdengar merepotkan, Bang Haji Hendi justru mengaku lebih menyukai kondisi tersebut karena dinilai dapat menjaga lingkungan.
“Jadi memang udah beda kehidupannya. Tetapi, kalau dipisah begitu, air jadi gak tercemar,” ujar Bang Haji Hendi.
Masa muda Bang Haji Hendi juga tidak lepas dari kesenian Betawi. Sejak usia muda, Ia dan teman-teman di lingkungan tempat tinggalnya sudah mengenal gambus, samrah, dan rebana. Menurut Bang Haji Hendi, kawasan Betawi Tengah saat itu banyak mengembangkan kesenian bernuansa religius, karena mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Islam. Kondisi tersebut berbeda dengan Betawi Pinggiran yang lebih dahulu akrab dengan lenong, gambang kromong, dan tanjidor.
Namun demikian, Bang Haji Hendi mengatakan bahwa kondisi tersebut kini sudah jauh berubah. Perpaduan budaya di Jakarta kini lebih mudah diterima oleh masyarakat, meski masih ada batas-batas yang tetap dijaga.
(Syahrani Alyssia Tunggadewi - Universitas Negeri Jakarta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....