Wayangan Mapag Sandekala

  • 10 Agt 2026 12:20 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Wayangan Mapag Sandekala

RRI.CO.ID.Jakarta - Tradisi Wayangan Mapag Sandekala menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat Banyumas yang sarat dengan nilai spiritual, sosial, sekaligus filosofi kehidupan. Hal tersebut mengemuka dalam program Apresiasi Budaya Banyumas Pro 4 RRI Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026, yang menghadirkan Ulum Karto Diwiryo dalang asli Sampyuh Banyumas, melalui sambungan telepon. Dalam perbincangan yang dipandu host Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak, Ki Ulum menjelaskan bahwa Mapag Sandekala bukan sekadar pertunjukan wayang, melainkan bagian dari tradisi masyarakat dalam menyikapi datangnya waktu sandekala atau peralihan dari siang menuju malam. Kehadiran wayang menjadi media untuk menyampaikan doa, nasihat, dan pengingat agar manusia senantiasa menjaga keseimbangan hidup.

Menurut Ki Ulum, istilah sandekala memiliki makna yang cukup dalam dalam kehidupan masyarakat Jawa, termasuk Banyumas. Masa peralihan menjelang malam sejak dahulu dipandang sebagai waktu yang perlu disikapi dengan penuh perhatian. Melalui Wayangan Mapag Sandekala, masyarakat tidak hanya menikmati seni pedalangan, tetapi juga diajak memahami pesan-pesan kehidupan yang disampaikan melalui tokoh, dialog, serta alur cerita wayang. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Banyumas memiliki cara tersendiri dalam mengemas nilai-nilai luhur agar dapat diterima lintas generasi. Wayang akhirnya menjadi ruang pertemuan antara seni, tradisi, filosofi, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sebagai dalang yang tumbuh dari lingkungan budaya Banyumas, Ki Ulum juga melihat bahwa kekuatan Wayangan Mapag Sandekala terletak pada karakter pertunjukannya yang dekat dengan masyarakat. Bahasa, humor, spontanitas, serta gaya penyampaian khas Banyumas membuat pertunjukan wayang terasa hidup dan tidak berjarak dengan penontonnya. Dalam konteks inilah, dalang tidak hanya berperan sebagai pemain atau penyaji cerita, tetapi juga sebagai penyampai pesan moral dan penjaga ingatan budaya. Ki Ulum menekankan pentingnya mempertahankan jati diri pedalangan Banyumas agar perkembangan zaman tidak membuat masyarakat kehilangan akar budayanya. Dokumentasi tentang Ki Ulum sebagai dalang Sandekala dan wayang kuno juga muncul dalam sejumlah unggahan publik.

Lebih jauh, Mapag Sandekala dapat dimaknai sebagai bentuk refleksi tentang bagaimana manusia menghadapi perubahan. Pergantian siang menuju malam menjadi simbol bahwa kehidupan selalu bergerak dan mengalami perubahan, sehingga manusia dituntut untuk mampu menjaga sikap, keseimbangan, serta hubungan dngan lingkungan sosialnya. Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya populer. Karena itu, pelestarian wayang tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukannya, tetapi juga harus memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui dialog bersama Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak di Apresiasi Budaya Banyumas Pro 4 RRI Jakarta, Ki Ulum Karto Diwiryo kembali mengingatkan bahwa tradisi seperti Wayangan Mapag Sandekala merupakan kekayaan budaya yang perlu terus dirawat.

Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang menyimpan berbagai pesan tentang kehidupan, hubungan antarmanusia, serta kearifan leluhur. Di tengah perubahan zaman, Mapag Sandekala menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang untuk terus hidup dan berkembang. Dari panggung wayang itulah masyarakat Banyumas dapat terus mengenalkan identitas budayanya, sekaligus menitipkan pesan kepada generasi muda bahwa kemajuan tidak berarti harus meninggalkan akar tradisi dan jati diri budaya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....