Regenerasi Penenun Batik Gedog Hadapi Tantangan Pelestarian Budaya

  • 03 Agt 2026 14:58 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Regenerasi penenun menjadi tantangan terbesar dalam upaya melestarikan Batik Gedog, warisan budaya khas Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penggiat literasi dan Batik Gedog, Muzdalifah, mengatakan proses menenun yang panjang dan membutuhkan ketekunan membuat minat generasi muda untuk menekuninya masih rendah.

Di balik indahnya Batik Gedog, ada proses panjang yang penuh kesabaran. Kini, generasi muda diharapkan ikut menjadi penerus tradisi menenun. (Foto: Institut Agama Islam Nahdatul Ulama Tuban)

Muzdalifah menjelaskan bahwa pembuatan Batik Gedog diawali dari menanam kapas, memintal benang, menenun kain hingga proses membatik. Untuk menghasilkan selembar kain Batik Gedog, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan sehingga diperlukan kesabaran dan ketelatenan tinggi.

"Yang menjadi tantangan utama adalah regenerasi. Banyak anak muda lebih memilih pekerjaan yang hasilnya lebih cepat dirasakan, sedangkan menenun membutuhkan proses yang panjang," ujar Muzdalifah saat dialog bersama radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Ia mengatakan, saat ini mayoritas penenun Batik Gedog merupakan perempuan berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, anak-anak mulai dikenalkan dengan proses membatik sejak usia sekolah dasar, namun regenerasi pada bidang menenun masih sangat terbatas karena tingkat kesulitannya lebih tinggi.

Menurut Muzdalifah, Batik Gedog bukan sekadar kain tradisional, melainkan identitas budaya masyarakat Tuban yang diwariskan turun-temurun. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari peran perempuan sebagai penjaga warisan budaya dan penerus nilai-nilai leluhur melalui keterampilan menenun dan membatik.

Selain persoalan regenerasi, pengrajin juga menghadapi tantangan dari sisi ekonomi. Proses produksi yang memakan waktu membuat nilai jual Batik Gedog tidak selalu sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan. Di sisi lain, tuntutan pasar mendorong sebagian pengrajin melakukan inovasi pada bahan maupun motif agar tetap mampu bersaing.

Muzdalifah menilai pelestarian Batik Gedog membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas hingga masyarakat. Pemerintah diharapkan terus memperkuat kebijakan pelestarian, akademisi berperan dalam penelitian dan dokumentasi, sedangkan komunitas dapat mendorong edukasi kepada generasi muda.

Ia berharap masyarakat tidak hanya mengapresiasi Batik Gedog dari keindahan motifnya, tetapi juga memahami nilai-nilai kesabaran, ketekunan, dan penghargaan terhadap proses yang terkandung dalam setiap lembar kain. Dengan demikian, regenerasi penenun dapat terus terjaga dan Batik Gedog tetap lestari sebagai warisan budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....