Batik Marunda Tampil di Indonesia Fashion Week 2026

  • 31 Jul 2026 07:40 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Batik Marunda menampilkan koleksi terbaru 'Sampir Jakarta' di Indonesia Fashion Week 2026 yang digelar di JICC, Senayan, Jakarta pada 30 Juli 2026.
  • Koleksi ini menghadirkan narasi tentang identitas warga Ibu Kota dan perjalanan panjang sejarah Jakarta melalui desain batik tulis.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sehelai kain batik tulis tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga media wacana dan ungkapan terima kasih. Nilai itulah yang diusung oleh pengrajin Batik Marunda, saat menampilkan koleksi terbaru bertajuk ”Sampir Jakarta”, dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, di JICC, Senayan, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Melalui koleksi itu, Batik Marunda menghadirkan narasi tentang identitas warga Ibu Kota, dan perjalanan panjang sejarah Jakarta. Penggagas sekaligus pembina Batik Marunda, Irmanita Hutabarat, menyatakan penamaan dan konsep rancangan itu, terinspirasi dari semangat keterbukaan kota Jakarta, yang menyambut siapa saja.

”Sampir Jakarta bercerita tentang ’Aku, Orang Jakarta’. Sebab, Batik Marunda sepenuhnya diproduksi di Jakarta, oleh warga Jakarta sendiri, tepatnya oleh para perempuan di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda,” ujar Irma saat ditemui usai gelaran Indonesia Fashion Week 2026.

Ia menambahkan, peragaan busana itu juga disiapkan, sebagai persembahan khusus menyambut usia lima abad Kota Jakarta. ”Kami berpikir, untuk lima abad Jakarta, apa yang bisa kami berikan? Rasanya kami ingin menjadi bagian yang bercerita tentang Kota Jakarta, di atas sehelai kain,” katanya.

Berbeda dari motif-motif tradisional ragam hias Betawi, yang sering menampilkan figur ondel-ondel secara utuh, koleksi Batik Marunda kali ini memilih pendekatan kontemporer. Unsur-unsur arsitektur dan kebudayaan dekonstruktif, diangkat menjadi motif yang lebih elegan dan bergaya urban.

Irma menjelaskan, beberapa ikon yang dituangkan dalam lembaran kain antara lain, arsitektur Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), hingga ornamen topeng petasan. ”Kami tidak mengambil sosok ondel-ondel secara utuh, melainkan unsur-unsur visualnya saja, agar terkesan lebih modern dan urban,” kata Irma.

Dari sisi pewarnaan, dominasi warna cokelat dan hijau, menjadi pilihan utama dalam koleksi kali ini. Penentuan palet warna tersebut disesuaikan dengan tren busana saat ini, sekaligus menegaskan kesan hangat dan membumi.

Gaya potongan (cutting) dan gaya (styling) yang ditampilkan pun, berfokus pada teknik drapery (drape). Kain-kain batik ditata menyampir di bahu tanpa banyak jahitan kaku, melambangkan keterbukaan.

”Konsep ’sampir’ ini ibarat kain yang disampirkan di bahu. Ia tidak membungkus kaku, tidak menutupi, tetapi memberi kehangatan. Kami berharap batik ini merepresentasikan Jakarta: kota yang tidak pernah tertutup, selalu terbuka, dan hangat bagi warga yang tinggal di dalamnya,” kata Irma.

Keberadaan Batik Marunda tidak lepas dari program pemberdayaan masyarakat, yang diinisiasi di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara. Bermula dari warga yang direlokasi dari kawasan permukiman kumuh, para perempuan penghuni rusun kini memiliki keterampilan baru, yang bernilai ekonomi tinggi.

Saat ini, sedikitnya ada 20 perempuan penghuni Rusunawa Marunda yang aktif membatik. Irma mengakui, proses pembinaan dan peningkatan kapasitas (up-skilling) warga rusun, membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak singkat.

Seluruh produk Batik Marunda dibuat menggunakan teknik batik tulis halus, tanpa melibatkan teknik cap. Akibatnya, proses pengerjaan satu helai kain, membutuhkan waktu hingga dua minggu.

”Karena sepenuhnya batik tulis, hasilnya sangat personal. Setiap kain tidak ada yang persis sama, layaknya sebuah lukisan di atas selembar kain,” ucap Irma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....