Menakar Kontras Literasi NTT: Juara Membaca tapi Terhalang Laut

  • 24 Jun 2026 18:35 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Siapa sangka, di balik gugusan pulau eksotis Nusa Tenggara Timur, tersimpan bara semangat membaca yang menyala begitu hebat hingga berhasil menggebrak panggung nasional. Keberhasilan menembus peringkat tertinggi dalam Indeks Kegemaran Membaca ini ibarat oase menyegarkan, sekaligus sebuah ironi manis yang menuntut perhatian lebih mendalam dari kita semua.

"Provinsi NTT berhasil menduduki peringkat pertama nasional dengan Indeks Kegemaran Membaca tertinggi di Indonesia, meraih skor sebesar 62,05 melampaui DKI Jakarta dan Pulau Jawa," ujar Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT, R. Hery Budhiono. Dikutip dari siaran Suara Budaya Nusantara, pencapaian luar biasa tersebut membuktikan bahwa keterbatasan wilayah sama sekali tidak mengubur antusiasme masyarakat untuk menyerap ilmu.

"Namun, kami dihadapkan pada tantangan geografis yang berat karena wilayah NTT terdiri atas gugusan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan, sehingga distribusi buku bermutu terhambat dan masih ditemukan siswa SLTA belum lancar membaca," tambah R. Hery Budhiono. Realitas keprihatinan ini menjadi alarm penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera berkolaborasi semesta demi menyalurkan bahan bacaan secara merata ke pelosok daerah.

Menyikapi situasi yang kontradiktif ini, Pemerintah Provinsi NTT tidak tinggal diam dan langsung bergerak taktis mengamankan masa depan generasi muda. Pemerintah setempat menerbitkan langkah progresif melalui Peraturan Gubernur (PERGUB) Nomor 24 Tahun 2026 yang mengatur tentang Gerakan Jam Belajar bagi anak-anak.

Melalui regulasi ketat tersebut, aktivitas luar rumah serta penggunaan gawai atau gadget dibatasi pada jam tertentu di sore menjelang malam hari. Langkah konkret ini sengaja diambil agar anak-anak di NTT bisa mengalihkan fokus mereka untuk belajar serta memperbanyak waktu membaca buku di rumah.

Tak hanya itu, Balai Bahasa NTT juga aktif menggandeng Bunda Literasi NTT guna mempercepat pendistribusian ribuan judul buku bacaan secara gratis. Mereka bahkan memproduksi puluhan buku cerita anak multibahasa yang berbasis pada 72 bahasa daerah lokal NTT agar konten pengayaan literasi terasa lebih kontekstual dan menarik.

Pada akhir diskusi, disimpulkan bahwa sinergi kuat antara regulasi pemerintah, keteladanan orang tua sebagai role model di rumah, serta pemanfaatan inovasi digital seperti buku audio menjadi kunci utama. Dengan ekosistem yang kondusif, budaya literasi di NTT diharapkan tidak sekadar menjadi angka prestasi di atas kertas, melainkan sebuah kebiasaan hidup yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....