Kelompok Teater Kami Bertahan 37 Tahun Menghidupkan Seni Teater
- 23 Jun 2026 07:47 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kelompok Teater Kami yang berdiri di Jakarta sejak 21 Juli 1989 masih konsisten berkarya hingga 2026 dengan mengusung nilai artistik, estetik, dan pesan moral melalui seni pertunjukan.
- Pendiri kelompok, Harris Priadie Bah, berharap teater semakin mendapat apresiasi masyarakat dan menjadi bagian dari gaya hidup serta kebutuhan budaya bangsa Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kelompok Teater Kami terus mempertahankan eksistensinya sebagai ruang berkesenian yang mengedepankan nilai artistik, estetik, dan pesan moral bagi masyarakat. Kelompok teater yang berdiri di Jakarta pada 21 Juli 1989 itu masih aktif berkarya hingga kini meski menghadapi berbagai tantangan dalam dunia seni pertunjukan.
Pendiri sekaligus penggagas utama kelompok ini adalah Harris Priadie Bah. Ia mendirikan komunitas tersebut dengan tujuan untuk menghadirkan karya seni yang mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Menurutnya, teater menjadi media yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.
Harris menjelaskan nama Kelompok Teater Kami dipilih untuk mencerminkan semangat kebersamaan dan keterbukaan. Ia menilai setiap orang yang bergabung memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan kelompok tersebut.
Dalam acara siaran radio bertajuk Obrolan Komunitas di RRI Pro 4 Jakarta, Senin, 22 Juni 2026, Harris mengungkapkan kelompok yang didirikannya saat ini memiliki sekitar 10 anggota aktif. Sejak berdiri lebih dari tiga dekade lalu, komunitas tersebut telah melibatkan sekitar 40 orang yang datang dan pergi mengikuti perjalanan organisasi.
"Saat ini, Kelompok Teater Kami yang saya dirikan memiliki sekitar 10 anggota aktif, sementara sejak awal berdirinya telah melibatkan kurang lebih 40 orang yang datang dan pergi seiring perjalanan waktu. Menariknya, syarat untuk bergabung di Kelompok Teater Kami sangat sederhana saja, yaitu mampu membedakan yang benar dan yang salah," ujar Harris.
Ia menambahkan prinsip tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun karakter anggota selain kemampuan berkesenian. Menurut Harris, pembentukan sikap dan moral merupakan bagian penting dari proses berteater.

Dalam menjalankan berbagai pementasan, sebagian besar konsep pertunjukan dirancang langsung oleh dirinya. Kelompok Teater Kami juga dikenal memiliki pandangan yang berbeda terhadap dunia kompetisi teater. Alasannya karena mereka meyakini bahwa seni teater lebih berkaitan dengan “roso” atau rasa, sehingga penilaian baik dan buruk bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh kepekaan seni masing-masing individu.

Meski menghadapi keterbatasan dukungan pendanaan dan minimnya apresiasi dari lembaga pendonor, kelompok ini tetap bertahan dan terus menghasilkan karya. Harris berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai seni teater sehingga teater dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia.
"Kami berharap teater bukan hanya tontonan, tetapi menjadi kebutuhan masyarakat dan bagian dari kehidupan bangsa ini," ucap Harris Priadie Bah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....